Degradasi Nilai Pendidikan di Era Viralitas

Oleh Syahrul Amin*

Syahrul Amin (Foto: Dok. Pribadi)

Kabarnanggroe.com, Di tengah derasnya arus digital, wajah pendidikan kita seakan mengalami pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Pelajar mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA, kini semakin akrab dengan budaya popularitas instan di media sosial.

Fenomena joget-joget di depan kamera, yang kerap kali minim nilai edukasi, justru menjadi kebanggaan baru. Yang dipamerkan bukan lagi prestasi akademik, melainkan penampilan fisik demi meraih perhatian.

Realitas ini tentu menimbulkan kegelisahan. Konten-konten yang berseliweran tanpa batas di ruang digital bukan hanya membentuk pola pikir, tetapi juga berpotensi memicu dampak sosial yang lebih serius.

Ketika batas antara ekspresi diri dan eksploitasi mulai kabur, pertanyaan penting pun muncul: siapa yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Apakah individu, lingkungan, atau justru sistem yang kurang mampu mengimbangi perkembangan zaman?

Lebih jauh, fenomena ini juga memperlihatkan perubahan orientasi generasi muda. Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kini sudah akrab dengan gaya hidup pacaran dan memamerkannya di media sosial.

Sementara itu, semangat untuk mengejar ilmu pengetahuan tampak semakin memudar. Prestasi tidak lagi diukur dari capaian akademik, melainkan dari seberapa viral sebuah konten dan seberapa banyak “likes” yang diperoleh.

Krisis Kedisiplinan

Menanggapi kondisi ini, Syahrul Amin selaku demisioner kehumasan di PK Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Ar-Raniry Banda Aceh Periode 2023-2024, menilai bahwa perilaku pelajar saat ini menunjukkan gejala krisis kedisiplinan dan etika.

Ia melihat bahwa sebagian anak-anak sekolah kini semakin sulit diarahkan. “Semakin diatur, semakin dilawan. Ucapan orang yang lebih tua tidak lagi menjadi pegangan, bahkan sering dianggap sepele. Tidak sedikit pula siswa yang berani membantah bahkan melawan gurunya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini menandakan bahwa nilai moral dan etika yang dahulu dijunjung tinggi kini mulai memudar di kalangan generasi muda.

Jika kita menoleh ke masa lalu, generasi sebelumnya dikenal dengan semangat kompetisi dalam hal pendidikan. Nilai tinggi, prestasi, dan kecerdasan menjadi kebanggaan. Namun kini, ukuran keberhasilan seolah bergeser: popularitas digital menjadi tolok ukur baru.

Inilah tantangan besar bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Diperlukan peran bersama orang tua, guru, pemerintah, hingga lingkungan sosial untuk mengembalikan esensi pendidikan sebagai fondasi utama generasi bangsa. Sebab jika tidak, kita berisiko kehilangan arah dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Syahrul Amin, anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aceh.

Exit mobile version