Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh menggelar Coffee Morning Refleksi Akhir bertema Harmoni Umat Beragama di Tengah Bencana dengan mengundang tokoh lintas agama dan para pegiat media. Coffee morning berlangsung di Aula Badan Kesbangpol Aceh, Banda Aceh, Rabu (31/12/2025) pagi.
Diskusi dalam acara Coffee Morning dibuka oleh Plt Kaban Kesbangpol Aceh Iqbal Tawakkal M.Eng dan dipandu oleh budayawan Aceh Tarmizi A Hamid.
Tarmizi alias Cek Midi menyebutkan, bencana banjir menimpa penduduk lintas agama di Aceh, tidak memilik berdasarkan agama.
“Bencana banjir menimpa semua agama dan etnis atau suku bangsa di Aceh,” ujar Cek Midi.
“Demikian bantuan dari lintas agama dan lintas bangsa sangat dibutuhkan dalan proses rehab-rekon Aceh pasca banjir bandang 2025,” sambung dia.
Ketua FKUB Aceh H A Hamid Zein menyampaikan kondisi kehidupan umat beragama di Aceh sangat rukun, termasuk di kala musibah banjir menimpa.
Yuswar dari Vihara Dharma Bakti, Pendeta Joel Rampengan dari Gereja GPIB, dan Anselmus Panggal dari Gereja Katolik Hati Kudus menyatakan bahwa mereka merasa sangat aman dan nyaman tinggal di Aceh.
“17 tahun saya di Aceh, mengurus Gereja Hati Kudus, tak pernah ada perlakuan diskriminatif,” ujar Anselmus.
Disebutkan, umat lintas agama ikut berpartisipasi dalam membantu korban bencana di daerah-daerah terdampak, seperti pengiriman bahan makanan, obat-obatan dan lain-lain.
Masrizal Zairi, wartawan Serambi Indonesia, menyebutkan narasi-narasi negatif yang menyakitkan korban bencana, seperti isu baut yang disebutkan hilang.
“Padahal korban bencana butuh rumah, air bersih, pengobatan. Sebentar lagi bulan puasa, apakah sembako akan terus mengalir dan lain-lain,” ujar Masrizal.
Iqbal dari Radio Antero menyebutkan di media sosial banyak muncul narasi negative terhadap bencana banjir di Aceh dan mereka rata-rata orang luar Aceh dan tidak berada di Aceh.
Sementara Wildia Ulfita dari Radio As-Salam mengatakan di medsos terlalu banyak orang luar Aceh berkoar koar tentang banjir, padahal mereka takt ahu keadaan lapangan yang sesungguhnya dan ini harus dilawan.(MarDG/*)
