Kabarnanggroe.com, Bireuen — Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Aceh menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Aceh sebagai upaya pencegahan stunting di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh.
Ketua Umum Pengurus Daerah IPeKB Aceh, Zulfikar mengatakan, Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Balai Penyuluh KB Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, pada Kamis 29 Januari 2026 lalu tersebut, bertujuan memperkuat ketahanan keluarga melalui Program Bangga Kencana (Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga), khususnya bagi masyarakat di daerah terdampak banjir dan longsor.
“MoU ini merupakan langkah konkret untuk mendukung pencegahan stunting, terutama bagi ibu hamil dan keluarga berisiko stunting di wilayah terdampak bencana,” ujar Zulfikar, Sabtu (31/1/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan perdana hasil kerja sama tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada 4 Februari 2026 dengan sasaran ibu hamil di empat desa lokus terdampak banjir di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, yakni Gampong Raya Dagang, Raya Tambo, Pante Gajah, dan Pante Pisang.
“Pendampingan ibu hamil sangat penting sebagai upaya pencegahan dini, agar tidak lahir bayi stunting, khususnya pada keluarga berisiko pascabencana,” katanya.
Zulfikar berharap, sinergi antara IPeKB Aceh dan POGI Aceh dapat berjalan berkelanjutan serta mendorong peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam percepatan penurunan angka stunting di Aceh.
Sementara itu, Ketua Umum POGI Aceh, dr. Purnama Setia Budi, SpOG, menyampaikan bahwa ruang lingkup kerja sama meliputi pendampingan pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan keluarga berisiko stunting, pemeriksaan ultrasonografi (USG) gratis, serta konsultasi persiapan persalinan dan pelayanan KB pascapersalinan (KBPP).
“Program ini sejalan dengan SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) yang menjadi salah satu fokus POGI dalam meningkatkan kesehatan ibu,” jelas dr. Purnama.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Bireuen, tetapi juga akan diperluas ke kabupaten/kota lain di Aceh yang terdampak bencana.
“Ke depan, kegiatan ini akan kita laksanakan secara bertahap di daerah terdampak bencana lainnya di Aceh,” pungkasnya.(Wahyu/*)
