Kabarnanggroe.com, Perjalanan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional Universitas Iskandar Muda Banda Aceh pada 18 Agustus 2025 menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya akademis, tetapi juga kultural dan emosional. Kami berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, menuju Kuala Lumpur, Malaysia, lalu melanjutkan perjalanan ke Thailand Selatan.
Selama lima hari di Thailand Selatan, mahasiswa bersama dosen melakukan berbagai aktivitas penting: bersilaturahmi dengan kampus JISDA, menyelenggarakan seminar, mengisi acara di radio, membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an, serta menampilkan budaya Aceh melalui tarian Ranup Lampuan dan Likok Pulo. Semua kegiatan tersebut bukan hanya memperkenalkan wajah Aceh di kancah internasional, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan serumpun Melayu-Aceh-Patani.
Namun, puncak perjalanan kami justru terjadi setelah itu, ketika melanjutkan agenda ke Malaysia, tepatnya di Kampung Acheh Yan Kedah. Di sana, kami disambut hangat oleh tokoh-tokoh masyarakat Kampung Acheh, seperti Pak Cek Jasni, Pak Cek Abdurahman, dan tokoh kampung lainnya. Kehadiran kami juga diapresiasi oleh pihak yayasan dan pimpinan Universitas Iskandar Muda, di antaranya Ketua Yayasan Bapak Akmil Raden, Rektor Prof. Syafei Ibrahim, M.Si., serta Dr. Bustamam Ali, M.Pd. selaku Wakil Rektor III. Kami menikmati makan malam bersama, sebuah simbol persaudaraan yang erat dan penuh keakraban.
Kami kemudian diberi kesempatan untuk tinggal di Kampung Acheh Management Center (KAMC), sebuah pusat kegiatan yang sederhana namun luar biasa. Lingkungannya begitu asri: terdapat sungai kecil dengan air jernih, tempat duduk yang bersih dan nyaman, bangunan yang walau tidak besar tetapi tertata rapi, serta area nongkrong seperti kantin terbuka yang sejuk. Semua itu menghadirkan kesan seolah-olah kami sedang berwisata sambil belajar, bukan sekadar menjalani program KKM.
Pengalaman berada di KAMC mengingatkan saya pada Lamteuba, sebuah kawasan di Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Lamteuba memiliki bentang alam perbukitan, sungai yang jernih, dan udara yang sejuk—potensi luar biasa untuk pengembangan kawasan pendidikan berbasis alam. Jika di Lamteuba dapat dibangun sebuah Kampus Alam dengan konsep serupa KAMC, maka ia tidak hanya akan menjadi pusat pendidikan, melainkan juga destinasi wisata akademik dan ekowisata.
Kampus Alam Lamteuba: Potensi dan Manfaat
Kampus Alam Lamteuba bukan sekadar gagasan romantis, melainkan peluang strategis bagi Aceh. Konsep kampus berbasis alam (eco-campus) telah banyak dikembangkan di dunia sebagai model pendidikan berkelanjutan (sustainable education). Beberapa manfaat yang dapat dihasilkan antara lain:
1. Pusat Pendidikan dan Riset
Mahasiswa dan peneliti dapat memanfaatkan alam sebagai laboratorium terbuka untuk penelitian interdisipliner, mulai dari ilmu komunikasi, lingkungan, pertanian, hingga pariwisata.
2. Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Kehadiran kampus akan membuka peluang usaha bagi masyarakat, seperti homestay, kuliner lokal, dan jasa ekowisata. Dengan demikian, pembangunan kampus juga akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat Lamteuba.
3. Wisata Edukasi
Kampus alam tidak hanya berfungsi sebagai pusat belajar, tetapi juga bisa menjadi tujuan wisata edukatif yang menarik bagi pelajar, mahasiswa, dan wisatawan umum.
4. Pelestarian Alam dan Budaya
Konsep eco-campus mendorong harmoni antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Kampus yang dibangun dengan memperhatikan kearifan lokal akan menjaga identitas budaya Aceh sekaligus merawat alam Lamteuba.
Belajar dari KAMC, Membangun Aceh
Kampung Acheh Yan Kedah, melalui KAMC, telah memberi teladan bagaimana sebuah ruang belajar dapat menyatu dengan alam tanpa kehilangan fungsi akademiknya. Keteraturan, kebersihan, dan kearifan dalam penataan lingkungan menjadi nilai penting yang bisa ditiru. Aceh, dengan kekayaan alam yang tak kalah indah, seharusnya mampu menghadirkan model serupa melalui pembangunan Kampus Alam Lamteuba.
Harapan saya, gagasan Kampus Alam Lamteuba dapat diwujudkan oleh pemerintah, akademisi, dan masyarakat Aceh secara kolaboratif. Ia akan menjadi simbol kemajuan pendidikan Aceh yang tidak hanya mengejar intelektualitas, tetapi juga keberlanjutan, spiritualitas, dan pemberdayaan masyarakat.
Lamteuba memiliki segalanya: alam yang indah, masyarakat yang ramah, dan sejarah yang kuat. Tinggal bagaimana kita mewujudkannya menjadi pusat pendidikan unggulan. Semoga suatu hari, Kampus Alam Lamteuba berdiri megah, memberi manfaat besar, dan menjadi kebanggaan Aceh.
