Kabarnanggroe,com, Banda Aceh – Sekelompok pemuda di Banda Aceh menggelar pelatihan dan pameran herbarium sebagai upaya mengkoleksi dan mengawetkan biodiversitas tumbuhan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Ecological and Herbarium School Aceh (EHSA), yang bertujuan mengenalkan fungsi Herbarium Acehense (HEBA) sebagai wadah edukasi dan ruang koleksi data spesimen biodiversitas, di kawasan Darussalam Kota Banda Aceh, Selasa (25/6/2024).
Pelatihan EHSA terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dengan seminar pada 9 Mei 2024. Seminar tersebut mencakup penyampaian materi dan diskusi tentang herbarium yang dipandu oleh Ibu Dr. Saida Rasnovi, S.Si, M.Si, dan Bapak Masykur, S.Si., M.Sc. Pada 10 Mei 2024, peserta mengadakan kegiatan pengkoleksian sampel tumbuhan di sekitar Kopelma Darussalam.
Setelah sampel-sampel tersebut dikumpulkan, mereka menjalani proses pengeringan dan mounting, sebelum akhirnya dipamerkan pada 8 Juni 2024. Program ini diikuti oleh 19 peserta yang terdiri dari siswa SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.
EHSA diselenggarakan di Herbarium Acehense (HEBA), sebuah ruangan di Universitas Syiah Kuala yang telah diresmikan sebagai tempat penyimpanan sampel tumbuhan dari berbagai hasil riset. Beberapa tahun terakhir, aktivitas di HEBA menurun drastis.
Kondisi ini memotivasi tujuh alumni Biologi USK yang membentuk HEBAClub, yaitu Nada Ariqah, Nurul Islamidini, Regita Sri Rahayu, Rahmawati, Rayhannisa, Ghina Kamilah, dan Nakita Chairunnisa, untuk menghidupkan kembali herbarium tersebut. Dukungan dana dari Biodiversity Warrior Kehati (BW Kehati) memungkinkan terlaksananya kegiatan EHSA.
“Awalnya kami merasa resah karena Herbarium Acehense ini kurang dikenal dan seharusnya memiliki lebih banyak koleksi biodiversitas. Kami berinisiatif melakukan brainstorming untuk menghidupkan kembali herbarium tercinta ini,” ujar Nada Ariqah, ketua HEBAClub.
Puncak kegiatan EHSA adalah pameran herbarium yang berkolaborasi dengan KamiKita Community Center. Pameran ini menarik lebih dari 100 pengunjung. Panitia dan peserta EHSA menampilkan karya herbarium serta berbagai produk biologi lainnya seperti insectarium dan spesimen serangga. Selain itu, peserta EHSA mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengawetan spesies tumbuhan dan langkah-langkah pembuatan herbarium.
“Melalui pameran ini, kami berharap masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai kekayaan biodiversitas yang dimiliki Aceh. Kami juga ingin menumbuhkan minat generasi muda terhadap botani dan konservasi tumbuhan,” tambah Nurul Islamidini, salah satu anggota HEBAClub.
Selain itu, hasil kegiatan ini termasuk booklet spesimen tumbuhan di sekitar Kopelma Darussalam yang dapat diakses di bit.ly/bookletherbarium.
Rangkaian kegiatan EHSA diawali dengan pengenalan dan teori mengenai herbarium serta identifikasi tumbuhan. Para peserta juga mengikuti lab tour dan foto bersama. Kemudian, mereka melakukan pengumpulan sampel tumbuhan di lapangan dan membersihkan sampel-sampel tersebut.
Pada pertemuan selanjutnya, peserta melanjutkan dengan proses mounting herbarium, menghasilkan herbarium yang telah dikeringkan dan dimounting (dijahit). Puncak acara, yaitu pameran herbarium, menampilkan berbagai karya peserta serta memberikan edukasi kepada masyarakat umum.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan HEBA dapat menjadi pusat edukasi dan penelitian yang aktif di masa depan,” harap Regita Sri Rahayu, anggota HEBAClub lainnya.
Dengan berakhirnya pameran, EHSA berhasil memperkenalkan pentingnya herbarium dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap konservasi tumbuhan di Aceh.(WD/*)
