Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Anak pendek, atau stunting merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia. Sebab, anak pendek mencerminkan kurangnya asupan gizi yang berpengaruh pada pertumbuhan anak tersebut. Untuk menanggulangi masalah stunting ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3P2KB) Kota Banda Aceh fokus dalam upaya penurunanan angka stunting.
Kepala DP3AP2KB Banda Aceh, Cut Azharida, SH, mengatakan, stunting atau pendek dibandingkan anak seusianya merupakan perwujudan dari masalah kurang gizi kronis yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Anak yang stunting tidak hanya memiliki fisik yang lebih pendek dibanding anak-anak sehat, tetapi fungsi kognitifnya pun terganggu. Akibatnya, prestasi sekolah pun tidak maksimal.
“Anak penderita stunting adalah anak yang gagal tumbuh. Implikasinya, mereka memiliki kemampuan kognitif dan daya saing yang lemah. Ini akan membawa kita kepada masalah yang lebih besar lagi, yaitu kemiskinan,” terangnya, Jumat (19/5/2023).
Untuk mencegah stunting, lanjutnya, warga Kota Banda Aceh perlu mempromosikan perilaku-perilaku kunci, yakni kunjungan ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan, minum pil zat besi selama kehamilan, menjaga kecukupan asupan gizi selama kehamilan, pemeriksaan setelah melahirkan, IMD (Inisiasi Menyusu Dini), ASI saja bagi anak 0-6 bulan, memberi makanan bergizi seimbang dan tetap memberi ASI setelah anak berusia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, serta perilaku hidup bersih seperti cuci tangan pakai sabun dan penggunaan sumber air bersih.
“Program bantuan keuangan bagi keluarga sangat miskin seperti PKH (Program Keluarga Harapan) diharapkan dapat membantu pemenuhan makanan dan pelayanan kesehatan. Salah satu komponen penting di masyarakat untuk mempromosikan perilaku-perilaku kunci di atas, serta nilai dan norma sosial yang mendukung adalah tokoh agama,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan hari ini, warga Kota Banda Aceh sudah mulai enggan membawa anaknya ke posyandu untuk dilakukan pengukuran dan imunisasi, mirisnya banyak warga yang masih beranggapan jika vaksin imunisasi yang diberikan mengandung babi.
“Padahal persoalan itu sudah selesai, karena, memang sudah terbukti tidak ada kandungan babi,” jelasnya.
Untuk itu, Ia mengatakan pada program ini peran ulama sangat penting dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan stunting ini.
Itu sebabnya, Cut Azharida meminta para ulama ataupun ustadz yang ada di setiap gampong di Kota Banda Aceh, terlibat aktif dalam membantu Pemerintah Kota Banda Aceh dalam menurunkan angka stunting dengan memberikan pemahaman dan sosialisasi di setiap majelis.
“Dakwah tentang stunting ini menjadi penting adanya, setidaknya akan memberikan pemahaman terhadap pentingnya menekan angka stunting di Kota Banda Aceh, karena kecenderungan masyarakat mendengar nasihat para ulama, jadi, atas nama Pemko Banda Aceh, kami meminta agar para ulama di Kota Banda dapat menyampaikan ceramah terkait penurunan angka stunting, baik di majelin pengajian maupun di khutbah jumat,” pinta Cut Azharida.
Penurunan kasus stunting pada anak, kata dia, memang perlu upaya strategis oleh Pemko dengan melibatkan seluruh sektoral.
“Untuk menurunkan kasus kekerdilan pada anak harus ada intervensi secara spesifik dan intensif yaitu bagaimana mendapatkan dukungan secara intervensi yang akan diberikan oleh sektor terkait,” ujarnya.
Peran tokoh agama maupun ulama dinilai sangat krusial dalam menurunkan angka stunting di Banda Aceh. Pasalnya, saat ini umat beragama di Indonesia menganggap para ulama sebagai salah satu sumber pengetahuan selain penyampai nilai-nilai dan pesan keagamaan.
“Pimpinan organisasi masyarakat Islam, penyuluh agama, da’i, dan da’iyah sangat strategis sebagai sumber ilmu, pendidik, penggerak, dan teladan bagi umat,” katanya.
Ia juga mengatakan, jika stunting bukan sekedar isu kesehatan, melainkan juga problem kemanusiaan, bahkan dapat menghambat perekonomian dan masa depan pembangunan negara. Karena itu, pemerintah secara agresif telah mengambil langkah penanganan stunting.
“Dibutuhkan kerja cepat, kerja cerdas, dan yang terpenting, kerja kolaborasi semua pihak, termasuk partisipasi aktif penyuluh agama, da’i, dan da’iyah,” paparnya.
Bimbingan Pernikahan Penting untuk Atasi Stunting.
Pencegahan stunting adalah perintah agama, bukan hanya perintah negara. Sebab, menyiapkan generasi terbaik adalah risalah nubuwwah. Pencegahan stunting juga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga semua warga bangsa. Karenanya, diperlukan upaya kolaboratif dari seluruh stakeholder.
“Ketahanan keluarga menjadi satu pondasi ketahanan negara. Kita ingin generasi bangsa menjadi generasi yang mampu berkompetisi secara global. Keluarga menjadi palang pintu utama pada generasi mendatang,” ujarnya.
“Kita terus akan perkuat kolaborasi dengan BKKBN, Kemenag dan pihak terkait lainnya. Isu stunting juga dimasukan dalam materi bimbingan pernikahan. Saya juga meminta penyuluh agama di Banda Aceh untuk terlibat dan berkolaborasi dalam program ini. Mari kita bersama-sama memberi perhatian untuk penurunan stunting di Banda Aceh,” sambungnya.
Saat ini ada aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) yang menjadi langkah keterbukaan informasi kepada publik demi mempercepat penurunan angka stunting yang disebabkan oleh kekurangan gizi.
“DP3AP2KB siap melaksanakan program penurunan stunting melalui aplikasi Elsimil yang diluncurkan oleh BKKBN sebagai alat pemantau kesehatan, yang juga memuat edukasi seputar kesiapan nikah dan hamil. Aplikasi ini sekaligus merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya mencapai target penurunan stunting,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sistem kerja aplikasi Elsimil adalah dengan pencatatan seluruh informasi yang diperoleh dari seluruh pemeriksaan kesehatan yang dilakukan ibu dan calon ibu sebelum hamil, antara lain pemeriksaan kesehatan paling sedikit meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan anemia.
“Nantinya, perempuan yang dinyatakan memiliki anemia akan mendapatkan modul pemberitahuan untuk kembali ke fasilitas kesehatan, di mana mereka akan menerima tablet tambah darah guna dikonsumsi selama 90 hari. Kemudian, pemeriksaan akan kembali dilakukan,” jelasnya.
Menurutnya, edukasi pencegahan stunting untuk calon pengantin menjadi strategi penting. Karena, itu akan menambah wawasan dan mempersiapkan mereka untuk menjadi orang tua. Sehingga anak yang dilahirkan akan sehat dan tidak mengalami stunting.
“Stunting adalah kondisi gizi kronis pada anak yang diakibatkan kurangnya asupan gizi, sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak dan membuat tinggi badan anak terlihat lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya,” terangnya.
Akan tetapi, bukan hanya kondisi fisik yang terlihat kerdil saja yang dikhawatirkan, namun perkembangan otak anak yang ikut terhambat akibat stunting menjadi momok yang harus diatasi sedini mungkin. Karena itu, pengetahuan terkait stunting bagi calon pengantin sangat penting, agar mereka bisa melahirkan generasi nyang sehat, cerdas dan tangguh.
“Karena mereka ke depan yang akan menjadi pemimpin dimasa depan. Apalagi tantangan ke depan tidak seperti hari ini melainkan terus berkembang pesat. Jadi persiapkan generasi kita untuk mampu menghadapi tantangan di masa depan, terutama di era globalisasi dunia,” pungkasnya.(AMZ/*)
