Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Selama bulan Ramadhan, penjualan leumang meningkat pesat dibandingkan hari biasa. Hafsah Abas (72) selaku pedagang leumang mengatakan, untuk mencukupi ketersediaan stok dibulan ramadhan, pembuatan leumang menghabiskan 100 kilogram beras perharinya.
“Sangat berbeda jauh dengan hari biasanya, dalam sehari hanya empat sampai lima bambu perharinya,” ucap pedagang leumang itu yang sudah menekuni usaha tersebut sejak 21 tahun lalu, di simpang Lamdingin Gampong Lambaro Skep Kota Banda Aceh, Sabtu (25/3/2023) sore.
Ia menjelaskan, dari segi harganya mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 100 ribu perbatang bambunya. Namun untuk harga yang diecer, dari Rp 10 ribuan sampai diatasnya, tergantung permintaan dari para pembeli tersendiri.
“Jika pembeli ingin membelinya perbatangan bisa diecer juga bisa, yang pasti kita sesuaikan dengan keinginannya masing-masing,” ujar Hafsah.
Leumang yang ditawarkan, lanjut Hafsah Abas, tidak hanya leumang beras ketan putih, namun ada juga leumang beras ketan hitam dan leumang ubi. Para pembeli tersendiri, dominan meminati leumang yang terbuat dari beras ketan, baik itu ketan putih maupun ketan hitam.
“Peminatnya yang lebih dominan, membuat stok ketersediaan juga harus ditingkatkan,” katanya.
Selain itu, untuk pemesanan leumang yang bahkan dalam jumlah besar, bisa dilakukan setiap harinya. Namun khusus dibulan Ramadhan, pemesanan yang akan diterima hanya sampai pada malam meugang lebaran saja. Dalam hal itu, untuk menjaga tetap tercovernya jumlah pemesanan yang ada.
“Jika ada pembeli yang ingin pesan leumang untuk lebaran, kami juga menerimanya. Namun yang memesannya di malam meugang, untuk pengambilan leumang tersebut pada malam lebaran,” terangnya.
Sementara itu, selama bulan Ramadhan, proses pembuatan leumang dilakukan sejak pukul 09.00 Wib sampai 11.00 Wib. Proses masaknya, sejak pukul 11.00 Wib sampai 15.00 Wib. Namun untuk penjualanya, dimulai sejak pukul 16.00 Wib hingga menjelang waktu berbuka.
“Prosesnya kita lakukan sejak pagi hari hingga selesai, selama proses itu juga dibantu oleh anak-anak dan cucu saya. Mereka juga senang bisa saling membahu meskipun menempuh waktu berjam-jam,” tutur Hafsah.
Kemudian, Ia menyebutkan, tempat berjualan yang saat ini digunakan, tanah milik seorang yang dermawan. Selama 21 tahun berjualan di sana, orang tersebut tidak mau menerima uang sewa, namun hanya mengizinkan secara cuma-cuma untuk penggunaan sementara tanah tersebut. Dengan itu, Ia sendiri merasa sangat terbantu oleh pemilik tanah tersebut.
“Kami sangat berterima kasih terhadap pemilik tanah ini, dia mengizinkan kami memanfaakan sebagian tanahnya sebagai lapak berjualan,” pungkasnya.(WD)
