Kabarnanggroe.com, Kuala Simpang – Dendang Lebah yang awalnya sebagai tutur atau mantra mengambil madu di pohon telah menjadi bagian dari kisah warga Aceh Tamiang secara turun-menurun.
Kini, seni tutur mengambil madu yang dilakukan masyarakat Aceh Tamiang telah masuk sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek sejak 2020.
Tetapi, di balik indahnya budaya ini ada kisah cinta terlarang dan mutilasi yang dialami Raja Muda. Dendang Lebah merupakan cara mengambil madu yang dilakukan masyarakat dengan cara berdendang.
Cara ini sudah dilakukan secara turun temurun dengan tujuan tidak menyakiti lebah dan setelah mendengarkan dendang yang dilantunkan si pengambil madu, lebah meninggalkan sarang dan kembali ketika proses pengambilan madu selesai.
“Cara ini sama sekali tidak menyakiti lebah, tidak ada lebah yang mati. Ini termasuk menjaga kelestarian lebah madu,” kata pemerhati kebudayaan Aceh Tamiang, Muntasir Wan Diman, beberapa waktu lalu.
Dia memastikan cara yang dilakukan masyarakat Aceh Tamiang ini tidak akan dapat ditemukan di daerah lain. “Dendang lebah mungkin semua negeri ada, tapi khusus yang tidak menyakiti lebahnya hanya ada di Aceh Tamiang,” katanya.
Dikisahkan dendang lebah berawal dari kisah cinta Raja Muda atau putra mahkota dengan seorang Dayang. Namun hubungan ini tidak mendapat restu dari Raja. “Raja Muda mengabaikan larangan itu, sehingga Raja marah dan mengutuk Dayang menjadi lebah,” ujar Muntasir.
“Raja Muda kemudian bersama istrinya mengambil madu dari pohon di sekitar istana. Proses pengambilan ini dilakukan dengan berdendang, merayu karena lebah itu kutukan Dayang,” tambahnya.
.
Proses ini awalnya berjalan lancar karena lebah pergi meninggalkan sarang dan kembali setelah madu diambil. Namun belakangan berubah menjadi petaka ketika mahluk di pohon itu mengetahui Raja Muda membawa besi ketika naik ke pohon.
“Mahluk itu marah membunuh Raja Muda dan memutilasi bagian tubuhnya,” kata Muntasir melukiskan kembali kisah tersebut. Kabar kematian ini sontak menggegerkan Istana. Setelah melalui proses panjang, akhirnya disepakati untuk menghidupkan kembali Raja Muda.
Muntasir kemudian menjelaskan kisah ini juga yang menambah gelar Raja Muda Sedia “Artinya setelah dimutilasi, Raja dihidupkan kembali seperti sedia kala,” sambungnya.
Riwayat ini secara turun temurun masih dipelihara oleh masyarakat Aceh Tamiang, termasuk pantangan membawa senjata atau benda berbahaya ketika mengambil madu. Berkat riwayat ini, kelestarian lebah madu masih terjaga dan produksi madu asal Aceh Tamiang tergolong berkualitas tinggi.
Dendang lebah ini biasanya digunakan untuk mengambil madu lebah di pohon kayu Tualang, tetapi dendang yang terdapat dalam prosesi pengambilan madu pada masyarakat Melayu Tamiang, yaitu mantra untuk pohon kayu tualang dan mantra untuk mengambil madu.(Adv)
