Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Tiga kiper yang hadir dalam latihan di Lapangan PS Lubuk, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar yang dipimpin Rahmanuddin mulai memasuki latihan berat.
Pelatihan diawali reaksi menangkap dengan cepat bola lambung dalam jarak dekat. Pinggang kiper diikat dengan seutas tali kain yang ditarik kiper lain saat akan menangkap bola.
Kiper harus bergerak kuat dari tarikan tali untuk menyambut bola yang ditendang sang pelatih sebanyak empat kali. Ketiga kiper yang baru memasuki latihan tampak bersemangat mendengar arahan pelatih saat menangkap bola.
Bahkan, sang pelatih memberi contoh cara menangkap bola dengan baik, sehingga dapat diterapkan oleh anak asuhnya. Pelatihan dilanjutkan dengan cara menjatuhkan badan untuk menghalang bola masuk gawang.
Rahmanuddin sempat beberapa kali berteriak “Sudah dua atau satu gol” dari tendangannya empat kali. Pada latihan ini, kiper benar-benar harus jatuh bangun saat menerima tendangan bola.
Dengan alat sederhana, Rahmanuddin terus memberi pelatihan kepada kiper dengan pergerakan cepat dan sigap saat mengantisipasi bola masuk gawang. Dia beberapa kali meneriakkan nama pemainnya untuk bergerak sesuai instruksinya, termasuk memberi contoh.
Tak ketinggalan, latihan kecepatan menangkap bola dengan tendangan mendatar dan lambung. Kiper harus bergerak cepat dalam menangkap bola dan jika hanya menepis, maka harus ke kiri atau kanan gawang, agar tidak terjadi blunder.
Di sini, kiper juga harus jatuh bangun menahan tendangan bola, termasuk dengan kaki. Rahmanuddin menjelaskan tumpuan kaki harus kuat dan lutut harus sejajar dengan pergerakan bola, sehingga tidak masuk ke gawang.
Dia kembali mencontohkan, bagaimana seorang kiper mengamankan bola mendatar dengan tendangan lemah. Dia menjelaskan tendang lemah lebih berbahaya dibandingkan tendangan keras, karena jika keras dapat ditepis keluar gawang.
Tetapi, katanya, tendangan keras dapat dihalau keluar lapangan dengan tinju dan juga kaki. Dia juga menggambarkan betapa kerasnya latihan kiper tempo dulu yang harus berada di setiap sudut lapangan untuk berlari menyambut bola.
Bahkan, katanya, latihan di tanah berpasir yang juga harus jatuh bangun menerima tendangan bola. Dikatakan, latihan ini tidak terlalu berat dibandingkan tempo dulu, apalagi kini, dalam sepak bola modern, kiper tidak lagi menendang jauh bola ke tengah lapangan.
Namun, diberikan kepada pemain terdekat yang berada di area pertahanan sendiri yang nantinya akan mengatur serangan ke area pertahanan lawan. “Zaman sudah berubah dan pola latihan juga berubah,” katanya.
Dia menjelaskan para pemainnya sudah mampu bergerak cepat dalam menangkap atau menahan bola, tetapi masih ada kelemahan, timing atau waktu yang tepat untuk bergerak menangkap bola yang harus ditingkatkan.
Sementara itu, kecepatan kiper dalam sepak bola, tentunya berdasarkan kemampuan bereaksi dengan cepat dan melakukan gerak-gerak lincah untuk menjaga gawang.
Sebagai pendukung, maka harus juga memiliki kecepatan lari, waktu reaksi, dan kelincahan untuk melakukan penyelamatan gawang. Seorang penjaga gawang sangat penting untuk bereaksi cepat terhadap tendangan atau umpan.
Kemampuan bergerak dengan cepat dan fleksibel sangat dibutuhkan seorang kiper atas tendangan bola yang berubah arah. Kecepatan juga sangat penting untuk melakukan penyelamatan yang efektif, baik saat gerakan lari, jatuh , atau bereaksi terhadap tendangan keras.
Kecepatan juga penting dalam koordinasi gerakan, seperti berlari keluar dari garis gawang, melakukan penyelamatan, dan kembali ke posisi yang tepat. Sehingga, harus ada latihan pada kecepatan lari, kekuatan kaki, dan agility, sehingga dapat meningkatkan kemampuan kiper.
Latihan dengan bola dan menggunakan alat-alat khusus dapat membantu meningkatkan waktu reaksi. Latihan yang melibatkan perubahan arah yang cepat dan gerakan yang fleksibel dapat meningkatkan kelincahan.(Muh)
