Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Suasana sore di bulan suci Ramadan tahun ini terasa begitu semarak di kawasan Jalan Tgk Di Baroh atau Jalan Ex Bioskop Garuda, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, Sabtu (21/02/2026), masyarakat di Banda Aceh tampak memadati pusat-pusat penjualan takjil untuk berburu menu berbuka puasa. Aktivitas jual beli jajanan tradisional hingga aneka minuman segar berlangsung ramai sejak pukul 16.00 WIB hingga menjelang azan Magrib sekitar pukul 18.30 WIB.
Tiap tahunnya pada bulan Ramadhan khusus di jalan Garuda selalu di tutup untuk kendaraan roda dua hingga roda empat, sehingga masyarkat membeli jajajanan berbuka puasa hanya berjalan kaki.
Deretan pelaku UMKM tampak berjajar rapi menjajakan aneka menu berbuka. Mulai dari gorengan hangat, kue basah, kue kering, kolak, mie goreng dan pecel sayur tersedia lengkap di sepanjang jalan tersebut.
Keramaian mulai terlihat sejak sore hari. Warga berdatangan untuk membeli hidangan berbuka puasa. Beberapa pembeli tampak rela mengantre demi mendapatkan menu favorit mereka.
Haris (65), seorang penjual aneka kue, mampu menjual hingga 1.000 potong kue setiap harinya dengan harga Rp2.000 per potong. Meski tidak memproduksi sendiri, usaha yang dijalaninya tetap memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan.
Kue-kue yang dijual Haris merupakan titipan dari rekan-rekannya yang memproduksi berbagai jenis jajanan. Dari setiap potong kue yang terjual, ia memperoleh keuntungan sebesar hingga Rp500.
“Sehari bisa habis sekitar 1000 pcs kue dari berbagai macam jenis menu jajanan seperti gorengan, kue kering dan kue basah. Pada umumnya pembeli lebih suka kue kering dan gorengan seperti risol dan tahu,” ujarnya.
Ia menambahkan, penjualan biasanya meningkat drastis menjelang waktu berbuka. Dalam waktu kurang dari dua jam, dagangannya hampir selalu ludes terjual.
Sementara itu, Rayyan (27), salah seorang pembeli, mengatakan dirinya memilih berburu takjil di kawasan tersebut karena pilihannya lengkap.
“Takjil di Jalan Garuda ini lebih lengkap, bukan hanya kue, tapi juga ada berbagai macam makanan dan minuman. Saya membeli beberapa menu jajanan dan minuman seperti es campur untuk berbuka,” katanya.
Lapak-lapak pedagang berdiri berjejer menawarkan beragam hidangan. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan manisnya kolak dan segarnya minuman dingin, menciptakan suasana khas Ramadan yang selalu dinanti setiap tahun.
Yudi (46), seorang pedagang es buah di Jalan Garuda, mengaku kewalahan melayani pembeli yang terus berdatangan.
“Es buah dijual dengan harga Rp10 ribu per gelas, dan kebanyakan pembelinya pelanggan. Kami sudah biasa berjualan es buah pada bulan Ramadan, karena pembelinya cukup banyak,” ujarnya.
Menurut Yudi, momen Ramadan menjadi waktu paling ramai sepanjang tahun. Ia bahkan harus menambah stok buah dan es untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang waktu berbuka.
Ramainya masyarakat berburu takjil tidak hanya menghadirkan suasana meriah, tetapi juga membawa berkah bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ramadan menjadi momentum penting bagi pedagang musiman maupun pedagang tetap untuk meningkatkan pendapatan.
Lapak- lapak sederhana yang berjajar di tepi jalan berubah menjadi pusatt transaksi. Para ibu rumah tangga, pedagang, hingga pelaku usaha kecil memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilan keluarga.(Zal)
