Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr Musriadi, SPd, MPd, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Ketua MKD DPR RI, H Nazaruddin alias Dek Gam dalam kegiatan Mendag Peduli untuk meninjau langsung dampak musibah banjir dan longsor yang menerjang 18 kabupaten/kota di Aceh.
Dalam rangkaian peninjauan tersebut, Musriadi juga melakukan pemantauan menyeluruh terhadap kondisi wilayah terdampak banjir dan longsor, mulai dari Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa hingga Aceh Tamiang.
Perjalanan rombongan dimulai dari Banda Aceh sejak 11 hingga 13 Desember 2025, dengan tujuan awal Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Sepanjang perjalanan di dua kabupaten tersebut, Musriadi menyaksikan hamparan sawah yang rusak parah akibat terjangan banjir, tampak seperti gurun pasir yang luas.
“Di banyak titik, tumpukan lumpur tebal menutupi pinggiran jalan, bahkan hingga ke permukiman dan pertokoan warga. Lumpur juga masih melekat di badan jalan,” ungkap Musriadi.
Ia juga melihat kayu gelondongan berserakan di area pemukiman, yang tidak hanya menghambat akses jalan, tetapi juga menghancurkan rumah-rumah warga. Kondisi pengungsi pun masih memprihatinkan, dengan banyak warga yang terus mengharapkan bantuan lanjutan.
Perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara dengan kondisi kerusakan yang hampir serupa. Sementara di Aceh Timur dan Kota Langsa, Musriadi menyaksikan pengungsi tersebar di berbagai lokasi akibat banjir yang belum sepenuhnya surut.
Namun, kondisi paling parah terlihat saat rombongan tiba di Aceh Tamiang, khususnya di Kota Kualasimpang.
“Ini kawasan terparah yang diterjang banjir bandang dan longsor,” ujar Musriadi kepada posaceh.com, Minggu (14/12/2025).
Di lokasi tersebut, ia melihat banyak mobil dan truk yang dihantam banjir bandang masih dibiarkan di jalan maupun di sekitar permukiman warga, menandakan besarnya kekuatan arus banjir yang melanda kawasan itu.
Musriadi menegaskan bahwa bencana banjir dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025 lalu memiliki dampak yang sangat besar.
“Bencana ini sudah seperti tsunami Aceh 26 Desember 2004. Skala kerusakannya luar biasa dan membutuhkan penanganan yang tidak biasa,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap penanganan dampak banjir dan longsor dilakukan secara serius, terpadu, dan berjangka panjang, bahkan dengan membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, seperti pascatsunami.
“Kita butuh penanganan luar biasa agar masyarakat bisa segera bangkit dan kehidupan ekonomi kembali pulih,” pungkas Musriadi. (Muh)
