Kabarnanggroe.com, Sumba Barat – Atraksi budaya Pasola Gaura di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan pemasaran produk lokal. Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTT, Johanis Asadoma, saat menghadiri langsung perhelatan tradisi tersebut di Sumba Barat, Minggu (15/03/2026).
Menurut Asadoma, selain menjadi warisan budaya yang sarat makna, Pasola juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, terutama melalui promosi produk lokal.
“Selain sebagai atraksi budaya, Pasola juga memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk memasarkan berbagai produk unggulan daerah, seperti kuliner tradisional, minuman khas, hingga kain tenun Sumba yang memiliki nilai seni tinggi.
Tradisi Pasola yang digelar di Desa Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, tetap berlangsung meriah meski sejak pagi kawasan tersebut diguyur hujan. Kondisi jalan menuju lokasi sempat menjadi becek dan licin, namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat. Ribuan warga tetap memadati arena untuk menyaksikan atraksi adu ketangkasan berkuda tersebut.
Pasola sendiri merupakan tradisi adat masyarakat Sumba yang menampilkan para penunggang kuda saling melempar lembing kayu di arena terbuka. Ritual ini tidak sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari upacara adat sebagai ungkapan syukur kepada leluhur serta simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan tradisi.
Dalam kesempatan itu, Asadoma mengaku bangga dapat menyaksikan langsung tradisi Pasola untuk pertama kalinya.
“Selama ini saya hanya melihat Pasola melalui media, tetapi hari ini saya datang langsung untuk menyaksikannya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Pasola merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Sumba yang telah dijaga selama ratusan tahun dan harus terus dilestarikan.
“Tradisi ini hanya ada di Sumba dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumba, masyarakat NTT, bahkan Indonesia. Warisan leluhur ini harus terus kita jaga dan perkenalkan kepada dunia,” ujarnya.
Wakil Gubernur juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan Pasola agar kegiatan tersebut dapat berlangsung dengan baik serta tetap menjadi atraksi budaya yang bermartabat.
Selain itu, ia mengimbau Pemerintah Kabupaten Sumba Barat agar melakukan penataan arena Pasola secara lebih baik, termasuk pembangunan tribun bagi penonton serta penetapan batas yang jelas antara arena pertandingan dan area penonton.
Sementara itu, tokoh adat setempat, Laihakodhi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Gubernur NTT yang menyaksikan langsung tradisi tersebut bersama masyarakat.
“Ini adalah warisan nenek moyang yang kami jaga sampai hari ini. Semoga Pasola Gaura dapat terus dilaksanakan dan semakin meriah pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, menjelaskan bahwa di wilayahnya terdapat tiga lokasi pelaksanaan Pasola, yakni Laboya, Wanokaka, dan Gaura.
Atraksi Pasola Gaura tahun ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya wisatawan asal Jerman, Herman Bierhof, yang mengaku terkesan dengan kekayaan budaya yang dimiliki NTT.
“Pertandingannya sangat seru. Tradisi di sini luar biasa, budayanya masih sangat kuat dan alamnya sangat indah,” katanya.
