Ketika Banjir Membelah SD Islam Terpadu (SDIT) An Nur, Air Mengalir di Atas Harapan Anak Meunasah Lhok, Mereudu, Pidie Jaya

Oleh: Rafiqa Maulidya - Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Kabarnanggroe.com, Banjir yang melanda Meunasah Lhok, Mereudu, bukan hanya merendam rumah dan jalan, tetapi juga menghancurkan ruang paling sakral bagi masa depan anak-anak: SD IT. Pemandangan yang tersisa sungguh memilukan. Bangunan sekolah yang seharusnya dipenuhi tawa dan doa kini terbelah oleh aliran air yang berubah menjadi sungai baru di tengah-tengahnya. Air tidak hanya membelah lantai sekolah, tetapi juga membelah rasa aman, semangat belajar, dan harapan banyak orang tua.

SD IT di Meunasah Lhok bukan sekadar gedung. Ia adalah tempat anak-anak belajar membaca, menulis, menghafal ayat-ayat suci, dan menanam mimpi. Namun dalam hitungan jam, banjir mengubah tempat itu menjadi jalur air yang liar. Buku-buku rusak, ruang kelas tak lagi utuh, dan jejak kehancuran menjadi saksi betapa rapuhnya perlindungan kita terhadap dunia pendidikan.

Lebih menyedihkan lagi, anak-anak harus menyaksikan sendiri sekolah mereka hancur. Trauma itu tidak terlihat, tetapi nyata. Rasa takut, kehilangan, dan kebingungan menyelimuti mereka. Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan tenang ketika sekolahnya telah menjadi sungai? Bagaimana mungkin orang tua bisa merasa tenang menitipkan masa depan anaknya di tengah ancaman bencana yang terus berulang?

Banjir ini seharusnya menggugah nurani semua pihak. Ini bukan semata takdir alam, melainkan akumulasi dari kelalaian panjang dalam menjaga lingkungan dan menyiapkan mitigasi bencana. Ketika SD IT sampai terbelah oleh air, itu berarti ada yang salah dan telah lama diabaikan.

Meunasah Lhok, Mereudu, tidak membutuhkan janji, melainkan tindakan nyata. SD IT harus segera dipulihkan, lingkungan harus dibenahi, dan keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas utama. Jangan biarkan air terus mengalir di atas mimpi mereka. Sebab ketika sekolah runtuh, yang sesungguhnya ikut runtuh adalah masa depan sebuah generasi.

Exit mobile version