Kuala Simpang – Gua Pintu Kuari, satu objek wisata gua di Aceh Tamiang yang terkenal yang juga disebut dengan Gua Alur Bening, menawarkan potensi wisata alam ekstrem dengan pemandangan stalaktit dan stalagmit yang indah serta aliran air bening.
Namun memerlukan persiapan khusus karena medannya menantang dan masih sangat alami, menjadi permata tersembunyi yang menarik bagi petualang di Dusun Pintu Kuari, Kampung Selamat, Kecamatan Tenggulun.
Dan di balik perbukitan batu kapur Kabupaten Aceh Tamiang, tersembunyilah sebuah gua alam yang dikenal warga setempat sebagai Gua Pintu Kuari. Namanya sederhana, merujuk pada bentuk mulut gua yang menyerupai pintu besar bekas kuari batu, namun, di balik “pintu” itu, tersimpan kisah alam dan keheningan yang jarang tersentuh.
Gua Pintu Kuari berada di kawasan bentang alam karst Aceh Tamiang, wilayah yang terbentuk dari proses geologi selama ribuan tahun. Mulut gua tampak menganga di antara tebing kapur, dengan dinding batu bertekstur kasar dan warna keabu-abuan yang khas.
Dari luar, gua ini terlihat sederhana, namun begitu melangkah masuk, suasana berubah drastis dengan cahaya matahari terpotong dinding batu, digantikan hawa sejuk dan lembap khas perut bumi. Bagian dalam Gua Pintu Kuari terdiri dari lorong-lorong pendek hingga sedang, dengan permukaan lantai yang sebagian masih alami.
Di beberapa titik, tetesan air dari langit-langit gua membentuk genangan kecil, tanda proses alam yang masih terus berlangsung. Stalaktit dan stalagmit memang tidak sebesar gua-gua terkenal di daerah lain, tetapi keasliannya menjadi daya tarik utama.
Kelelawar dan serangga gua kerap dijumpai, menjadi indikator bahwa ekosistem di dalamnya masih terjaga. Nama “Kuari” pada gua ini juga menjadi pengingat adanya aktivitas penambangan batu di masa lalu di sekitar kawasan tersebut.
Meski begitu, gua tetap bertahan sebagai ruang alami yang belum tersentuh pengelolaan wisata modern. Bagi warga sekitar, Gua Pintu Kuari bukan sekadar lubang batu, tetapi telah menjadi bagian dari lanskap hidup, tempat berteduh, penanda wilayah, sekaligus ruang yang diselimuti cerita lisan.
Hingga kini, Gua Pintu Kuari belum dikembangkan secara resmi sebagai objek wisata dengan akses masih terbatas, tanpa fasilitas penunjang. Namun kondisi ini justru menjadikannya ideal untuk wisata minat khusus, seperti menyusur gua ringan dan lainnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, pemandu lokal, pembatasan pengunjung, dan prinsip konservasi, gua ini berpotensi menjadi destinasi alternatif di Aceh Tamiang.A palagi, keaslian Gua Pintu Kuari menjadi kekayaan sekaligus tanggung jawab bersama.
Sekali rusak, formasi batu kapur tak bisa dipulihkan dalam waktu singkat, jadi setiap kunjungan seharusnya memiliki kesadaran untuk tidak merusak, tidak meninggalkan jejak, dan menghormati alam. Gua Pintu Kuari mungkin belum setenar destinasi lain, namun justru di situlah nilainya, sebuah ruang sunyi yang menyimpan jejak bumi Aceh Tamiang, menunggu untuk dikenal tanpa kehilangan jati dirinya.
Gua Pintu Kuari menjadi destinasi wisata alam ekstrem dan telah dikenal dengan pesona alamnya yang unik serta sering menjadi tujuan utama bagi para wisatawan yang menyukai petualangan. Loaskinya berada di wilayah pedalaman Aceh Tamiang.
Kadisparpora Aceh Tamiang, Muhammad Farij beberapa waktu lalu sempat mengungkapkan, Gua Pintu Kuari merupakan destinasi wisata yang ekstrim atau menegangkan tapi punya daya tarik sendiri untuk dikunjungi para wisatawan. “Memang kondisi Gua Pintu Kuari sendiri, masih sangat alami, memasukinya tentunya butuh perlengkapan dan perbekalan yang memadai,” ujarnya
Apalagi, akses menuju lokasi ini memerlukan sedikit usaha ekstra dan mungkin lebih cocok bagi mereka yang berjiwa petualang. Akses jalan ke daerah ini seringkali masih berupa tanah bebatuan di beberapa bagian. Gua yang satu ini sebetulnya merupakan situs budaya serta situs prasejarah yang berada di Aceh Tamiang.
Saat memasuki gua ini, bisa melihat ornamen yang menjadi bukti bahwa dahulu gua ini pernah dihuni oleh manusia purba. Tentu saja fenomena ini membuat takjub dan seolah tak percaya dengan kehidupan prasejarah di masa lampau. Bila penasaran dengan gua Pintu Kuari, maka silakan menuju gua ini dengan menempuh jarak 45 kilometer dari ibukota Kabupaten Aceh Tamiang. (Adv)
