Kabarnanggroe.com, Rabu, 08 April 2026 menjadi hari yang menyenangkan bagi saya. Menjadi volunteer Ruang Inspirasi bersama Ruang Lingkup di SLB TNCC. Mengungjungi Sekolah Luar Biasa waktu itu menjadi pengalaman pertama bagi saya. Hari itu terasa sangat berbeda, sekolah ini memang tidak seramai sekolah biasanya namun, disitulah letak kehangatannya. Ada senyum-senyum yang menyambut kedatangan kami semua, ada rasa ingin tahu yang sangat jelas terlihat dari anak-anak disana, dan energi bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sehingga saya menyadari, ketika awal saya memasuki gerbang sekolah maka hal itu menjadi awal bagi saya untuk mendapatkan pengalaman yang luar biasa.
Kegiatan edukasi yang kami lakukan dirancang sederhana, belajar sambil bermain. Diawali dengan anak-anak menari dan berjoget bersama, mendengarkan edukasi bagaimana cara mencuci tangan dengan benar, menuliskan harapan mereka dan menggambar wajah-wajah pada spanduk yang telah disediakan. Kami membangun kedekatan dengan anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan berinteraksi langsung dengan mereka. Di awal saya sempat
merasa canggung. Cara komunikasi yang berbeda mengharuskan saya untuk lebih peka dan sabar. Tapi secara perlahan jarak itu hilang dan yang tersisa hanyalah kehangatan dan juga kebahagiaan.
Hal yang paling membuat saya bahagia adalah ketika adik-adik disana ingat dengan nama saya. Memang terdengar sederhana namun saya begitu bahagia. Nanta dan Chiko salah satunya, anak yang terlihat paling aktif ketika kegiatan berlangsung. Mereka berdua adalah sahabat yang sangat senang ketika kita membuat video bersama. Lalu saya pun mengeluarkan ponsel untuk membuat vlog singkat bersama mereka, mereka dengan penuh semangat bercerita meskipun tidak semua kata dapat saya pahami. Tapi dari ekspresinya, saya tahu bahwa mereka bercerita
dengan sepenuh hati. Saat itu saya sadar, bahwa komunikasi bukan hanya soal kata-kata, tapi tentang kehadiran dan kemauan untuk mengerti.
Rangkaian acara terus berlanjut sampai pada kegiatan ”Pohon Harapan”. Memang terdengar sederhana, sebuah pohon yang menjadi tempat anak-anak untuk menuliskan harapan dan citacita mereka kedepannya. Namun, ketika saya mulai membantu anak-anak menulis cita-citanya, saya menyadari bahwa kegiatan ini memiliki arti yang sangat besar. Bukan hanya sekedar menuliskan harapan, tapi dengan pohon inilah mereka kembali yakin bahwa cita-cita mereka itu didukung dan diapresiasi oleh orang lain.
Mereka menuliskan harapannya pada secarik kertas yang telah kami berikan. Ada yang menulis sendiri, ada pula yang dibantu oleh kakak volunteer dan ada juga yang memilih untuk menggambar didalam sana. Meskipun isinya berbeda, namun ada satu hal yang sama: mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Satu persatu kertas mulai ditempelkan pada pohon harapan, pohon yang mulanya kosong perlahan menjadi penuh warna atas harapan-harapan yang telah ditempelkan disana. Dan saya mulai membaca harapan tersebut satu-persatu, ada yang ingin menjadi dokter, pilot, polisi, dosen, koki, dan pemadam kebakaran. Semua tertulis dengan penuh kebahagiaan, sehingga membuat saya tersadar bahwa ’keterbatasan’ mereka tidak menjadikan mimpi mereka terbatas.
Malu rasanya ketika saya menjalani hari-hari tidak semangat seperti mereka, malu rasanya ketika saya tidak sabar dan malu rasanya atas rasa syukur saya yang masih kurang terhadap Tuhan. Benar, terkadang memang kita mendapatkan pelajaran bukan hanya dari guru atau dosen, tetapi terkadang anak-anak pun bisa menjadi tempat untuk kita belajar.
Pada akhirnya pohon harapan bukan hanya menjadi milik adik-adik SLB namun menjadi pengingat bagi saya. Bahwa setiap orang mempunyai mimpi, dengan caranya masing-masing. Dan bahwa tugas kita, sekecil apapun, bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka. Saat kegiatan berakhir, pohon harapan tetap tertempel disana penuh dengan harapan yang baik dan indah.
Saya meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan. Bukan hanya lelah, tapi juga penuh. Mungkin saya datang untuk berbagi inspirasi. Tapi nyatanya, saya pulang dengan membawa jauh lebih banyak pelajaran. Adik-adik, semoga kalian selalu ingat bahwa kalian adalah pribadi yang sangat berharga. Kalian adalah alasan seseorang pulang dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang dipenuhi rasa syukur yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Terima kasih atas senyuman dan tawa hangat yang kalian berikan, hari itu sungguh mengajarkan kami makna hidup yang sesungguhnya. Dan sejak hari itu, saya percaya selama harapan masih ada, selalu ada alasan untuk terus melangkah.
