Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Mengenang perjuangan pahit masa penjajahan, A Walad yang merupakan seorang veteran asal Aceh Besar menceritakan, pesawat pasukan Jepang menghujani kawasan Blang Bintang dengan timah panas.
Menurut pria asal Cot Keeng tersebut, serangan udara pasukan Jepang menyebabkan banyaknya para pejuang menjadi korban. Pejuang Aceh yang hanya bermodalkan sepucuk senjata laras panjang dan bambu runcing, terpaksa harus bersembunyi dibawah jembatan untuk menghindari tembakan dari pesawat Jepang tersebut.
“Serangan udara itu sangat tragis untuk dikenang, karena dari pasukan kami hanya satu orang yang memegang senjata, dan yang lainnya hanya bermodal bambu runcing,” ungkap pria yang sudah menetap di Lhoknga Kabupaten Aceh Besar, Jumat (11/8/2023).
A Walad menjelaskan, pejuang Aceh sebelumnya sudah memasang bambu runcing di area persawahan. Pemasangan tersebut, dimaksudkan untuk menghalau pesawat Jepang saat mendarat dan menurunkan pasukan dikawasan tersebut gagal total.
“Untuk menghalau pendaratan pesawat pengangkut pasukan Jepang, sebelumnya kami sudah memasang bambu runcing diseluruh area persawahan, namun akhirnya gagal, karena serangan udara pasukan jepang,” kenang pria kelahiran 1926 itu.
Ia menerangkan, pahitnya perjuangan sebelum mendengarkan berita mundurnya pasukan Jepang, menyisakan berbagai kisah pilu yang sulit untuk dikenang. Setelah mendapati berita kemerdekaan, sisa pasukan pejuang sangat bersyukur karena telah berhasil bertahan dan berjuang mati-matian dengan jumlah korban yang sangat banyak.
“Kami sangat berharap, generasi sekarang dan generasi yang akan datang, memiliki semangat perjuangan seperti para pejuang masa penjajahan,” imbuhnya.
Selain itu, pria yang sudah berusia 97 tahun tersebut mengatakan, sejak Tahun 2005 sisa pasukan pejuang (veteran perang) diberikan gaji pensiunan hingga saat ini. Namun bentuk bantuan lainnya, sampai saat ini belum pernah didapatkan.
“Kami memang sudah diberikan gaji pensiunan, tapi kami juga berharap sesekali bisa mendapatkan kepedulian yang lebih dari negara,” ujarnya.
Kemudian, sambung A Walad, berbagai bantuan lainnya tidak pernah didapati diberikan para mantan veteran perang, dikarenakan peraturan pemerintah melarang pemberian bantuan bagi pensiunan.
“Sempat beberapa kalinya ada bantuan yang disalurkan melalui pemerintahan tingkat gampong (red-desa), namun untuk kami tidak pernah diberikan dengan alasan pensiunan dilarang mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal kami ini sudah tua dan tidak sanggup lagi untuk bekerja, kami yang mantan pejuang kemerdekaan sangat menyayangkan adanya peraturan seperti itu,” pungkasnya.(WD)
