Kabarnanggroe.com – Kabupaten Aceh Tamiang memiliki kekhasan seni tari tersendiri yang sudah dikenal sejak tempo dulu, seperti warisan leluhur seni tari Ula-ula Lembing yang berasal dari pesisir Tamiang.
Tarian ini mengisahkan tentang legenda cinta seorang Pangeran yang terhalang restu orang tua dan rakyatnya karena sang gadis adalah rakyat biasa. Karena Cinta yang begitu kuat pangeran menempuh berbagai cara untuk bertemu dengan pujaan hatinya, termasuk berubah menjadi seekor ular.
Tari ula–ula lembing merupakan tari drama bermusik yang diiringi lagu berbahasa Tamiang. Sesuai namanya tari ini menggambarkan kelincahan seekor ular adapun arti lembing adalah tombak yang melambangkan kekuasaan.
Berdasarkan buku Lintas Sejarah Tamiang oleh Muntasir Wan Diman digambarkan Tari Ula-ula Lembing, gerakan dasarnya diambil dari adaptasi tradisi dan silat. Tarian ini menceritakan kisah seorang pangeran yang sedang mengembara mencari pujaan hatinya, dan ditarikan oleh 10-16 penari yang bergerak seperti ular yang meliuk-liuk, dengan iringan musik seperti biola, gendang, dan telempong.
Setiap gerakan memiliki makna filosofis, seperti melambangkan kerinduan yang mendalam, kegelisahan, atau kejayaan dan kebahagiaan yang akan segera dirasakan oleh sang pangeran terhadap pujaan hatinya.
Kisah berawal dari legenda cinta seorang pangeran yang harus menjelma menjadi ular untuk menemui pujaan hatinya yang berasal dari kalangan rakyat biasa, di mana orang tua dan rakyatnya tidak menyetujui hubungan tersebut.
Hal itu digambarkan dengan gerakan lincah, dinamis, dan berputar-putar menyerupai ular, seperti gerak silat terlak untuk pembukaan dan gerak ula nyala. Para penari mengenakan pakaian adat Tamiang dan dihiasi dengan bunga kamboja serta sunting di kepala.
Tarian ini memiliki makna simbolis yang mendalam, yaitu melambangkan perjuangan cinta yang terhalang oleh restu dan adat. Tarian ini juga melambangkan kekuatan dan kegagahan, serta keramahtamahan masyarakat Aceh Tamiang dalam menyambut tamu dan penggunaan lembing sebagai simbol kekuasaan.
Untuk penari, memakai baju tangan panjang potongan teluk belanga khas Tamiang dengan leher tegak, warna cerah biasanya kuning, merah jambu, hijau dan lainnya. Biasanya dengan dua corak pakaian berpasangan.
Celana warna sama dengan baju dengan sulaman benang emas di kakinya dan di atas celana dipakai songket model belahan ke belakang, serta selempang di bahu menyilang ke pinggang dengan warna kontras dengan baju.
Sebagai salah satu seni tari yang memadu gaya, irama dan makna, Ula-ula Lembing tumbuh mekar di daerah pesisir dalam lingkungan kerajaan Bendahara yang masa kejayaannya diawali menjelang abad ke-12 M.
ketika itu Islam telah berkembang di daerah ini, yang dapat diungkapkan dengan cap kerajaan beraksara Arab-berbahasa Melayu tahun 531 H. Sesuai dengan pertumbuhan kebudayaan di Indonesia pada umumnya melalui periode-periode pengaruh kebudayaan dan aliran kepercayaan yang pernah menjelajahi dan menyusupi persada tanah air.
Demikian pula di daerah Tamiang yang tidak luput dari datang dan masuknya pengaruh kebudayaan dan aliran kepercayaan pada masa itu, turut memberi corak dan bentuk dalam pertumbuhan kebudayaan umumnya, kesenian dan tarian khususnya, melalui gaya dan irama nada yang mempengaruhi masyarakat.
Sebanding melalui perkembangan dan perluasan pengaruh jiwa dan keyakinan ajaran Islam di kalangan rakyat, maka pengaruh Islam turut menjiwai kebudayaan masyarakat baik yang bersifat adat atau resam maupun kesenian.
Pengisian syariat Islam dalam budaya dan seni khususnya terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan nafas ajaran Islam. Dengan demikian jelaslah penilaian moral, semangat dan jiwa unsur kebudayaan dan jiwa kesenian khususnya tidak terlepas dan ketentuan syariat Islam.
Dengan demikian tarian Ula-ula Lembing dalam keserasian bentuk dan watak, tidak akan menjadi medium perangsang pemicu keberahian, maupun sebagai kefatalan khayalan asmara, berdasarkan kutipan dari skripsi selayang panjang prospek sosial budaya Kabupaten Aceh Timur tahun 1972.
Tarian Ula-ula Lembing ini menggambarkan kisah seorang pemuda berkelana, merambah rintangan, mencari putri menuju kalbu, idaman hati pujaan rindu pelarai damba. Dalam usaha mencari idaman hatinya pemuda merantau melalui sungai, karena waktu itu sungai menjdi sarana hubungan vital menghadapi bermacam rintangan dan hambatan.
Digambarkan dalam gerak tari mengayuh, menunda, meniti buih, menerobos belukar mengatasi segala rintangan, akhirnya setelah melalui berbagai rintangan, pujaan hati menuju kalbu bersua juga.
Sesuai dengan sifat wanita jinak-jinak merpati tidak lekas menyerah, digambarkan dalam gerak tari atau adegan berkejar-kejaran dalam babak pukuh puku pangke. Akhirnya setelah putri dapat ditemui melalui gerak tabur beras, bagian dari adat dalam setiap pertemuan.(Adv)
Lirik Lagu Ula-ula Lembing:
Assalamualaikum
Kami Ucapkan
Kepada Hadirin Yang kami muliakan
Kami angkat sepuluh jari
Mengisi sembah dan Syukur Kami
Kepada tuhan ilahi rabbi salawat salam kepada nabi.
Ula-ula lembing
Tetedung awan-awan
Yang mane ku patoke
Yang puteh pononje
Cepat dalam hati
Cepat dalam bulan
Belajar tiga tae
Tujuh jari punye
Ula-ula lembing
Tetedung awan-awan
Yang mano ku patoke
Yang puteh pononje
Kayoh maidah kayoh
Kayoh rame-rame
Singgah usah singgah tepian belum sampe
La..la..la..la…la… 2x
La…la..la…la..la…
Kayoh maidah kayoh kayoh laju-laju
Singgah-maidah singgah
Disini kita bertemu
La..la..la…la…la…
La…la…la…la…la…
Ula-ula lembing
Tetedung awan-awan
Yang mano ku patoke
Yang puteh pononje
Puku-puku pangke
Lang betanye-betanye jalan-jalan kemane-jalan kemane
Ande tanyeken
Jalan-kami-jalan kami
Kegudang bading
Nak diambil nak diambil kegudang gading
Laju bubu-laju bubu
Teriang kembang di jalan
Lok bubu lok tempirang
Kelua jangan bercerai-berai
Padu kaseh kate berturai
Sepanjang mase jangan bercerai
Ula-ula lembing
tetedung awan-awan
Ntah mane ku patoke
Ntah puteh panonye
