kabarnanggroe.com – Sebanyak 80 grup Rapai Pasee Aceh Utara menggelar pertunjukan spektakuler di bawah komando Syeikh Fauzan pada malam penutupan Aceh Perkusi 2025 di Monumen Islam Samudera Pasai, Aceh Utara pada 24 Agustus 2025 dan berlangsung sangat meriah.
Gemuruhnya suara dentuman dari pemain Rapai Pasee menjadi puncak dari penampilan beragam seni tradisi Aceh yang digelar selama tiga hari, dari 22 sampai 24 Agustus 2025. Tabuhan rapai yang bergema dari puluhan seniman menghadirkan irama yang menggetarkan, menghipnotis ribuan penonton, sekaligus membangkitkan memori kolektif masyarakat tentang semangat spiritual dan historis yang melekat pada alat musik tradisi Aceh tersebut.
Suasana semakin hidup ketika berbagai penampilan seni turut mengisi malam penutupan. Mulai dari tarian Rampoe Aceh, musikalisasi Sultanah Nahrasiyah, Penampilan Musik Garapan Seulawat Pasee (Sanggar Cut Mutia Meuligo – Aceh Utara), Penampilan Tarian Seudati (Sanggar Puja Sera – Lhokseumawe), semuanya berpadu menciptakan harmoni budaya yang sarat makna.
Juga ikut menampilan Seni dan Budaya Anak Sibok (Simeulu). Bahkan seniman dari Majelis Kebudayaan Johor, Malaysia, ikut menyemarakkan panggung, menjadikan Aceh Perkusi sebagai ruang pertemuan budaya lintas daerah dan lintas negara.
Rapai Pasee merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Aceh Utara yang berasal dari kawasan Kerajaan Pasee (Samudera Pasai). Kesenian ini menggunakan rapai, yaitu alat musik pukul berbentuk bundar, dimainkan secara berkelompok dengan ritme cepat dan hentakan yang kuat.
Tabuhan rapai sangat dinamis, cepat, dan kompak yang biasanya disertai syair-syair religius, sejarah Pasai, dan nasihat adat. Pertunjukan sering dipadukan dengan gerakan tubuh yang serempak dan vokal yang menggema, bagian dari kekompakan dan kekuatan energi kolektif.
Sering dipentaskan dalam acara adat, perayaan hari besar Islam, penyambutan tamu, hingga festival budaya dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Aceh Utara, terutama kawasan Pasee dengan fungsi sebagai media dakwah, hiburan, serta penguat identitas budaya lokal.
Sementara itu, banyak sanggar dan grup pemuda di Samudera, Nisam, Matangkuli, dan sekitarnya aktif mempertahankan Rapai Pasee melalui latihan rutin dan pertunjukan pada setiap event budaya setempat.(Adv)
