Kabarnanggroe.com – Warga Aceh Tamiang yang dipengaruhi budaya Melayu masih mampu mempertahankan kesenian dan kebudayaan sebagai kearifan lokal, sehingga tidak akan terkikis zaman.
Suku Tamiang memiliki tutur kata mirip dengan bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Palembang, dan Melayu Malaysia. Dalam adat istiadat, juga memiliki kekhasan yang berbeda dari suku-suku lain di Aceh.
Seperti, sebutan untuk keturunan raja di kalangan Suku Tamiang adalah ‘Tengku’, sedangkan di kalangan orang Aceh adalah ‘Teuku’. Rumah adat Suku Tamiang mempunyai kesamaan dengan rumah tradisional masyarakat Melayu di Sumatera Utara.
Struktur rumah ini mengusung desain panggung dengan tiang empat persegi, dengan 9 atau 12 tiang utama. Atap rumahnya memiliki ciri khas melengkung sedikit di bagian tengah, sementara dapur memiliki bubungan terpisah yang lebih rendah dibandingkan dengan bubungan rumah utama atau rumah induk.
Lokasi penempatan rumah cenderung menghadap ke barat atau sungai, mencerminkan kepercayaan lokal yang tertanam dalam budaya Suku Tamiang. Keunikan rumah adat ini mencerminkan identitas yang kuat dalam tatanan budaya masyarakat mereka.
Ciri khas fisik orang-orang Suku Tamiang mencakup postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang atau kuning langsat, rambut hitam pekat dan lurus, serta hidung cenderung pesek.
Meskipun jumlah populasi mereka mencapai sekitar 125.000 jiwa, suku Tamiang berhasil mempertahankan identitas dan budayanya di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang yang berpisah dari kabupaten induk Aceh Timur pada tahun 2002.
Kearifan Lokal dan Budaya
Salah satu budaya yang masih erat dengan Suku Tamiang adalah Upacara Tulak Bala dan Kenduri Blang, kedua adat ini memiliki nilai budaya yang dijadikan pondasi hidup Suku Tamiang.
Pertama, nilai keselarasan dengan alam dalam upacara Tulak Bala, yang mana masyarakat berusaha menjaga keseimbangan dengan alam melalui ritual pembersihan desa dari energi negatif.
Masyarakat Suku Tamiang percaya bahwa upacara tersebut bisa menjauhkan mereka dari segala bencana dan hal hal negatif dari Suku Tamiang, mereka juga benar benar menyadari bahwa mereka hidup bergantung dengan lingkungan mereka tinggal.
Kedua, nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang terlihat dalam partisipasi seluruh masyarakat dalam kedua upacara tersebut. Masyarakat Tamiang berkumpul untuk menangani bencana di Tulak Bala dan merayakan hasil panen di Kenduri Blang. Hal ini menandakan semangat gotong royong dan saling mendukung yang menjadi inti kehidupan masyarakatnya.
Tidak hanya itu, budaya Blang Kenduri merupakan salah satu nilai syukur dan pelestarian tradisi, di mana mereka mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dan menghormati leluhur yang dianggap bermanfaat dalam salah satu mata pencaharian mereka yakni dalam pertanian.
Lainnya, tradisi seperti Dendang Lebah saat memanen madu, Kate Tetuh sebagai nasehat pernikahan, Tari Lang Ngelekak sebagai hiburan, dan tradisi berbalas pantun yang sarat makna saat intat linto atau dara baro yang juga masih melekat di berbagai daerah di Aceh.
Penghormatan terhadap alam juga diterapkan dalam masyarakat, seperti pantangan tidak memotong pohon di sembarang tempat, dan rumah yang tidak boleh menghadap melintang sungai, menunjukkan adanya kearifan dalam menjaga keseimbangan alam.
Nilai-nilai sosial juga masih ditunjukkan masyarakat Aceh Tamiang, seperti tetap menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan untuk menjadi inti kehidupan masyarakat, terlihat dari partisipasi masyarakat dalam setiap upacara adat.
Hal ini menunjukkan bentuk rasa syukur terhadap warisan budaya dan spiritualitas yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keseimbangan dengan alam, solidaritas masyarakat, rasa syukur dan pelestarian tradisi menjadi tiang utama hidup suku Tamiang.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya menciptakan identitas budaya yang kuat, tetapi juga menjadi landasan berlanjutnya hubungan sosial dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Dengan melestarikan kearifan lokal tersebut, suku Tamiang yakin akan dapat meneruskan warisan budaya yang sangat berharga dan melestarikan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.(Adv)
