Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Banda Aceh terus berinovasi dalam memperkuat sinergi antara sekolah dan masyarakat melalui program media pembelajaran berbasis komunitas. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan melibatkan langsung peran komunitas dalam proses belajar mengajar.
Ketua MPD Kota Banda Aceh, Dr Drs H Salman Ishak MSi, menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi hanya bergantung pada sistem formal di ruang kelas. Menurutnya, komunitas memiliki potensi besar sebagai sumber belajar yang relevan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
“Sekolah bukan satu-satunya tempat anak belajar. Komunitas—baik lembaga adat, organisasi pemuda, maupun pelaku UMKM—memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan siswa,” ujar Dr Salman di Banda Aceh, Senin (6/10/2025).
Melalui inisiatif bertajuk “Dari Komunitas untuk Pendidikan”, MPD Banda Aceh melakukan roadshow ke sejumlah sekolah dasar dan menengah. Dalam kegiatan tersebut, berbagai komunitas diundang untuk berbagi pengalaman dan keahlian praktis seperti kewirausahaan, literasi digital, budaya lokal, dan pelestarian lingkungan.
“Ketika komunitas hadir di sekolah, siswa belajar langsung dari pengalaman nyata. Ini yang kita sebut pembelajaran kontekstual—belajar dari realitas, bukan hanya dari buku,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Sekretariat MPD Banda Aceh, Mukhlizal SH MSi, menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis komunitas menjadi bagian dari upaya penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan kemandirian, gotong royong, dan berpikir kritis.
MPD juga menggandeng Komite Sekolah, tokoh masyarakat, dan perangkat gampong untuk mengembangkan program kolaboratif seperti pendirian pojok baca di balai gampong, pelatihan orang tua dalam mendampingi anak belajar, serta peran tokoh agama dalam pembentukan karakter siswa.
“Kami tidak ingin inovasi ini hanya bersifat seremonial. Karena itu, MPD sedang menyusun panduan implementasi dan menyiapkan pelatihan bagi guru agar pendekatan komunitas bisa diintegrasikan ke dalam RPP,” jelas Mukhlizal.
Selain itu, MPD berencana menggelar Festival Komunitas Pendidikan sebagai ajang mempertemukan komunitas dengan sekolah-sekolah untuk bertukar ide, menampilkan hasil kolaborasi, serta memperkuat jejaring pendidikan inklusif di Banda Aceh.
“Kami ingin ini menjadi gerakan bersama. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas sekolah,” tegas Mukhlizal.
Dengan pendekatan tersebut, MPD Banda Aceh berharap dapat menumbuhkan generasi muda yang berkarakter kuat, berakar pada nilai-nilai lokal, dan siap menghadapi tantangan global.
“Inilah semangat kita: membangun pendidikan dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk masa depan Banda Aceh yang lebih baik,” pungkas Mukhlizal dengan optimis. (Adv)
