Kabarnanggroe.com, Singkil – Pembangunan jalan lintas Singkil-Trumon akan segera dibangun secara bertahap atau kemungkinan multi years dengan dana APBA 2025 sebesar Rp 18 miliar. Jika rampung dibangun, maka jarak tempuh makin dekat, dari 157 km menjadi 50 km ke Tapaktuan, Aceh Selatan.
Dengan anggaran terbatas yang diplotkan Pemerintah Aceh, maka pembangunan jalan Singkil-Trumon yang telah diharapkan warga setempat puluhan tahun akan dapat diwujudkan secara bertahap. Bukan hanya jalan, sejumlah jembatan permanen juga harus dibangun, sehingga tentunya dibutuhkan waktu beberapa tahun.
Apalagi, sudah puluhan tahun masyarakat Aceh Singkil dan Trumon di Aceh Selatan berharap jalan Singkil-Trumon benar-benar terhubung, bisa dilintasi kendaraan dengan lancar, sehingga akan dapat menjadi akses utama untuk menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Untuk menyahuti hal tersebut, Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah yang sempat berkunjung ke Singkil pada Rabu (19/3/2025) berjanji akan menuntaskan proyek pembangunan jalan Singkil, Kuala Baru menuju Trumon, Aceh Selatan
Hal itu disampaikannya di hadapan sejumlah pejabat dan masyarakat Kabupaten Aceh Singkil saat bersama rombongan mengunjungi Aceh Singkil dalam rangka safari Ramadhan, seperti dikutip dari Humas Aceh Singkil, Sabtu (5/4/2025).
“Setelah saya berkeliling di Kabupaten Aceh Singkil hingga Kuala Baru – Trumon Aceh Selatan, ini menjadi komitmen kami untuk melanjutkan pembangunnya,” jelas Fadhullah.
Wakil Gubernur Aceh ini yang biasa dipanggil Dek Fadh menyatakan pada tahun 2025 ini, Pemerintah Aceh memastikan memplotkan anggaran sebesar Rp 18 miliar untuk kelanjutan pembangunan jalan Singkil -Trumon.
Sementara itu, jalan bukan sekadar urusan aspal atau jembatan, tetapi tentang perubahan warga untuk membuka peluang ekonomi baru dan mengangkat kehidupan dan derajat masyarakat.
“Pembangunan jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga simbol keterbukaan yang akan mengubah wajah perekonomian pesisir barat Aceh dan Sumatera Utara,” ulas Sadri Ondang Jaya, seorang guru dan pemerhati dinamika sosial budaya Aceh, seperti dikutip dari aceh.tribunnews.com.
Dia melukiskan selama bertahun-tahun, Aceh Singkil dan Trumon ibarat “rumah di ujung gang buntu,” hanya memiliki satu jalur masuk dan keluar. Padahal, kedua wilayah ini kaya akan hasil bumi, seperti kelapa sawit, palawija, madu hutan, sarang burung walet, serta hasil laut seperti udang, kerang, kepiting, dan ikan.
Namun, dengan akses transportasi terbatas, hasil bumi sulit dipasarkan ke luar, sehingga biaya logistik tinggi, harga jual rendah yang berimbas tidak meningkatnya perekonomian masyarakat.
Apalagi, lebih 70 persen penduduk Aceh Singkil-Trumon menggantungkan hidup pada sektor pertanian, tetapi tetap masuk kategori masyarakat termiskin di Aceh. Bukannya tidak bekerja keras atau memiliki mental miskin atau sumber daya alam, melainkan kurangnya perhatian pemerintah atas infrastruktur yang dibutuhkan mereka.
Kini, jalan Singkil-Trumon hadir sebagai solusi, dimana bukan saja sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga jalan harapan yang akan membawa perubahan nyata bagi masyarakat setempat.
Sebelumnya, perjalanan dari Singkil ke Tapaktuan harus memutar sejauh 157 kilometer melalui Kota Subulussalam. Bahkan, harus melalui jalan pegunungan berliku dan jurang dalam.
Tetapi, dengan akan adanya jalan baru ini, maka jarak tempuh akan berkurang, hanya sekitar 50 kilometer dengan jalan datar di pinggir pantai berhiaskan panorama alam yang eksotis.
Bahkan, melalui jalan lintas Singkil-Trumon, perjalanan ini akan memangkas waktu tempuh hingga tiga jam yang tentunya akan menurunkan biaya logistik sekitar 30 persen. Hal ini akan berdampak langsung pada sektor ekonomi, distribusi hasil pertanian dan perikanan, serta kebutuhan masyarakat lebih cepat datang dengan harga lebih murah.
Desa-desa seperti Kayu Menang, Kuala Baru, Ie Dama, dan Buloh Seumah dan desa lainnya yang selama ini terisolasi dan terpinggirkan akan berkembang menjadi titik-titik pertumbuhan ekonomi baru.
Tak hanya itu, akses jalan yang lebih baik akan membuka peluang investasi di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, jasa, hingga pariwisata. Aceh Singkil memiliki Pulau Banyak, gugusan pulau eksotis dengan laut biru jernih yang selama ini sulit diakses dari jalur darat.
Hutan margasatwa Rawa Singkil, rumah bagi flora dan fauna langka, juga menyimpan daya tarik tersendiri. Ditambah lagi dengan pantai-pantai indah dan situs sejarah yang menarik.
Sementara itu, Trumon memiliki ekosistem mangrove, rawa-rawa luas, dan konservasi gajah yang unik. Lanjut ke Tapaktuan, banyak destinasi wisata dengan panorama alamnya rancak, elok dan menarik.
Namun, keterbatasan akses membuat sektor ini sulit berkembang. Kini, dengan akan adanya jalan lintas baru, maka wisatawan bisa datang lebih mudah. Menurut data Dinas Pariwisata Aceh, kunjungan wisatawan ke Pulau Banyak 2023 sekitar 30.000 orang per tahun.
Tetapi, dengan akan adanya akses yang lebih baik, jumlah ini diperkirakan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Meski membawa harapan besar, proyek ini sempat diuji oleh bencana alam.
Pada Agustus 2024, banjir bandang meluluhlantakkan 12 jembatan darurat di jalur ini, akibatnyaakses jalan kembali terputus, transportasi tak lagi jalan dan roda perekonomian tersendat, kalau tak ingin dikatakan lumpuh.
Banjir yang melanda kawasan ini bukan hanya sekadar bencana alam, tetapi juga akibat dari penggundulan hutan besar-besaran di hulu sungai. Penebangan liar ini telah merusak ekosistem dan memperparah risiko bencana di wilayah ini.
Sebelum banjir, jalan Singkil-Trumon sudah bisa dilalui meskipun masih dalam kondisi darurat, seperti badan jalan masih berlumpur dan menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai Kuala Baru.
Namun, meski infrastruktur belum sempurna, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Mobilitas orang dan barang meningkat drastis, dan geliat ekonomi mulai terasa. Pemerintah Aceh juga mengalokasikan anggaran di APBA 2025 untuk membangun jembatan permanen Kuala Baru–Kayu Menang serta mengaspal ruas jalan yang masih berupa tanah.
Apalagi, Aceh Singkil dan Trumon berpotensi menjadi kota transit yang menghubungkan pesisir barat Aceh dengan Tapanuli Tengah, Pakpak Bharat, kabupaten lain hingga Medan, Sumatera Utara.
Dengan konektivitas yang lebih baik, volume perdagangan antarwilayah dipastikan meningkat. Aceh Singkil dan Trumon tak lagi sekadar “ujung jalan,” tetapi pusat ekonomi baru yang dinamis.
Dari sisi geopolitik, jalan ini juga memperkuat konektivitas kawasan barat-selatan Aceh yang berbatasan dengan provinsi lain. Sehingga, akan mendukung distribusi logistik yang lebih efisien dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Jika proyek jalan ini tertunda dibangun atau kondisinya lebih buruk lagi atau dalam artian gagal diselesaikan pada 2025, dampaknya akan sangat merugikan. Pertama, dampak ekonomi, distribusi hasil bumi tetap mahal dan lambat, sehingga merugikan petani dan nelayan.
Kedua dampak sosial. Hubungan silaturahmi menjadi tersendat, sektor jasa stagnan, akses pendidikan dan pelayanan kesehatan tetap sulit dan akan memperpanjang siklus kemiskinan.
Kemudian ketiga, dampak politik. Ketidakpuasan masyarakat meningkat, memperdalam ketimpangan wilayah, dan menurunkan kepercayaan publik pada pemerintah. Pembangunan yang berkeadilan dan kebutuhan publik tidak boleh hanya slogan belaka.
Jadi, jalan Singkil-Trumon harus menjadi bukti infrastruktur yang baik untuk dapat mengubah nasib masyarakat suatu wilayah. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten harus diperkuat agar proyek ini benar-benar dapat diwujudkan.
Sehingga, nantinya, pesisir barat Aceh ini tidak lagi terisolasi, tetapi di ambang gerbang kemakmuran. Dan kunci dari semua itu ada di tangan pemerintah dengan merampungkan proyek ini tanpa kompromi.(Muh)