Kabarnanggroe.com, Di abad ke-21, kata merdeka menjadi jargon yang dielu-elukan dalam dunia pendidikan. Kurikulum merdeka, belajar merdeka, kampus merdeka semuanya seolah menjanjikan kebebasan berpikir, kemandirian belajar, dan ruang luas bagi kreativitas peserta didik. Namun, di balik semangat itu, muncul sebuah paradoks yang menggelisahkan: mengapa di era kebebasan belajar justru kita menemukan gejala, penurunan Intelligence Quotient (IQ), penurunan minat baca, penurunan Motivasi belajar dan beberapa aspek lain yang kian hari semakin jauh dari kata membaik.
Judul ini tentu provokatif, bahkan terdengar kasar. Namun bukanlah hinaan, melainkan kritik reflektif terhadap kondisi pendidikan modern yang sering kali merayakan kebebasan tanpa kesiapan, fleksibilitas tanpa kedalaman, dan inovasi tanpa fondasi berpikir yang kuat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh World Population Review pada tahun 2024, Data IQ rata-rata Peserta Didik Indonesia mengalami tren penurunan yaitu 78,49, jika dirunut pertahunya maka ditemukan: Pada tahun 1986 rata-rata IQ peserta didik mencapai 109,6 (aangat tinggi), jelang 33 tahun, pada 2019 World Population Review kembali melakukan penelitian dengan temuan rata-rata IQ peserta didik yaitu 80, sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi 79 dari 110 negara. Kemudian pada tahun 2024 rata-rata IQ peserta didik Indonesia yaitu 78,49 menempatkan Indonesia pada peringkat 130 dari 199 negara.
Bagaikan mengunyah pil lambung, rasa pahit harus kita telan ketika melihat peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA) terbata-bata dalam membaca, gagap dalam menghitung, bahkan buta dalam menulis.
Berbagai media sosial mempertontokan kegelapan dunia pendidikan, seperti video yang di posting oleh akun Tiktok @MasukKampus https://www.tiktok.com/@masukkampus_official/video/7437812037805149495.
Dalam video tersebut anda bisa melihat begitu dangkalnya pengalaman belajar peserta didik dalam memahami matematika dasar. Video lain juga bisa anda saksikan di kanal YouTube CNN Indonesia dengan judul “Ratusan Siswa di Buleleng Tidak Bisa Baca Tulis” https://www.youtube.com/watch?v=rKV6blaZ5mw.
Bukan satu dua tapi ratusan siswa/siswi SMP tidak bisa baca tulis. Ini bukan hanya tentang kepiawaian guru dalam mengajar dan mendidik, melainkan bagaimana sistem pendidikan merancang, menjalankan, mengawasi, serta mengevalusi dengan benar.
Melihat fenomena tersebut, penulis membagi beberapa poin yang berkaitan dengan paradoks pendidikan abad-21 “Merdeka tapi Bodoh”:
1. Kebebasan yang Disalahpahami
Kemerdekaan dalam pendidikan sejatinya bukan berarti bebas dari tanggung jawab intelektual. Sayangnya, dalam praktik, kebebasan sering dimaknai secara dangkal: bebas dari aturan, bebas dari tuntutan, bebas dari kesulitan. Peserta didik dibiarkan menemukan jati diri tanpa cukup bimbingan, diarahkan untuk belajar sesuai minat tanpa terlebih dahulu dibekali kamampuan berfikir kritis, literasi dasar dan etika akademik.
Akibatnya, kebebasan berubah menjadi kekosongan. Peserta didik bebas memilih, tetapi tidak mampu menilai. Bebas berbicara tapi miskin argumen. Peserta didik bebas mengakses informasi, tetapi tidak mampu membedakan mana Fakta mana opini. Peserta didik hilang tujuan, mereka pergi sekolah tanpa bekal dan pulang tanpa pengetahuan. Inilah bentuk kebodohan baru: bukan karena tidak tahu, melainkan karena tidak mampu perfikir secara mendalam.
2. Banjir Informasi, Kekeringan Makna
Abad ke-21 adalah era informasi, dengan satu sentuhan layar jutaan data bisa didapat. Ironisnya, kemudahanm tersebut tidak otomatis melahirkan manusia cerdas. Justru sebalikanya, banyak peserta didik terjebak dalam information overload. Artinya, peserta didik berada pada posisi tahu sedikit tentang banyak hal tetapi tidak memahami secara utuh apa yang mereka ketahui.
Keadaan ini membuat pendidikan sering kali gagal dalam mengajarkan keterampilan paling dasar: Bagaimana proses berpikir. Peserta didik diajarkan mencari jawaban tanpa menimbang kesanggupan menyimpan informasi pelajaran. Bahkan untuk sampai pada tahap merumuskan pertanyaan merupakan suatu kemustahilan.
Mereka dilatih menghafal ringkasan, bukan memahami konsep. Dalam kondisi seperti ini, kemerdekaan belajar hanya melahirkan generasi yang tampak percaya diri tetapi rapuh secara akademik.
Untuk mengatasi paradok ini, sistem pendidikan perlu melakukan pergeseran mendasar, dari sekedar mengakses informasi menuju pembangunan makna. Penguatan literasi menjadi prioritas, peserta didik tidak cukup dianjurkan cara mencari informasi, tetapi juga cara memverifikasi, membandingkan sumber, dan memahami konteks.
Pembelajaran berbasis pertanyaan dan masalah nyata perlu diperluas. Jika peserta didik diajak memecahkan persoalan kontekstual, bukan sekadar menjawab soal, inforrmasi akan berubah menjadi alat berpikir, bukan tujuan akhir. Proses ini menumbuhkan kemampuan analisis, sintesis dan refleksi.
Banjir informasi harusnya tidak menengggelamkan, melainkan menjadi sumber yang menghidupkan, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang tahu banyak, tetapi manusia yang mampu memahami, mampu menafsirkan dan bertanggung jawab atas pengetahuannya.
3. Guru Merdeka Sistem Membelenggu
Tak heran jika seubrek proses administrasi menjadi masalah mendasar bagi tenaga pendidik, guru dituntut untuk kreatif, inovatif, responsif dan merdeka dalam belajar, namun masih dibebani oleh administrasi berlebihan, target numerik dan penilaian formalistik. Belum lagi tugas tambahan dari sekolah yang membuat waktu guru habis untuk mengisi laporan, bukan mendampingi proses berfikir peserta didik.
Paradoks guru merdeka semakin memperjelas bahwa merdeka hanyalah sebuah konsep yang tidak bermakna, sarat akan pengakuan dan lapisan-lapisan tabir pelucutan. Ketika guru kehilangan refleksi dan pengembangan diri, kemerdekaan hanya menjadi slogan. Pendidikan pun berubah menjadi rutinitas yang tampak modern tetapi sangat tertinggal dalam kesejahteraan.
Memerdekakan guru secara struktural dan kultural menjadi pilihan untuk mewujudkan Guru Merdeka, Administrasi seharusnya menjadi alat refleksi profesional, bukan beban pelaporan. Fokus utama guru perlu dikembalikan pada perencanaan pembelajaran, interaksi pedagogik dan refleksi belajar murid. Pergeseran paradigma evaluasi kinerja guru perlu dilakukan.
Penilaian tidak semata berbasis dokumen dan angka. Tetapi pada kualitas praktik pembelajaran, kemampuan membangun relasi dengan siswa, serta dampak nyata terhadap perkembangan berpikir dan karakter peserta didik.
Dalam hal lain kolaborasi antarguru perlu ditekankan, guru perlu ruang aman untuk berdiskusi, berefleksi dan menuangkan pendapat secara bersama tanpa rasa takut dinilai atau disanksi. Dari sinilah kemerdekaan tumbuh, bukan dalam kesendirian, tetapi dalam kolaborasi yang bermakna.
4. Menuju Kemerdekaan yang Mencerdaskan
Kemerdekaan sejati dalam pendidikan bukanlah kebebasan tanpa arah, melainkan kebebasan yang ditopang oleh disiplin berfikir, nilai dan tanggung jawab. Pendidikan abad-21 seharusnya tidak hanya menghasilkan individu yang bebas memilih, tetapi juga mampu mempertanggung jawabkan pilihannya secara rasional dan etis.
Untuk keluar dari paradoks “Merdeka tapi Bodoh”, pendidikan perlu kembali pada esensinya yaitu memanusiakan manusia. Mengajarkan keberanian berfikir, kerendahan hati untuk belajar, dan ketekunan dalam memahami. Kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kecerdasan yang utuh antara intelektual, moral dan sosial.
Kemerdekaan yang mencerdaskan menuntut keseimbangan antara otonomi dan pembimbingan, antara kebebasan dan kedalaman. Disinilah pendidikan berperan bukan sekedar memfasilitasi pilihan, tetapi membentuk kesadaran ktitis, karakter dan kepekaan sosial peserta didik. Tanpa fondasi ini kemerdekaan justru berpotensi melahirkan kebingungan intelektual dan kemiskinan makna.
Penutup
Merdeka tapi Bodoh adalah peringatan keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Tulisan ini mengingatkan bahwa kebebasan tanpa kualitas hanya melahirkan ilusi kemajuan. Di abad ke-21, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar menyediakan akses belajar yang benar-benar melahirkan manusia berfikir bukan sekadar merasa bebas.
* Rino Roy Vandi, Pendidik di SMAN 3 Indrapuri, Aceh Besar.
