Kabarnanggroe.com, KOTA JANTHO — Kegiatan Dialog Seniman dan Pentas Seni Tradisi Aceh Besar yang digelar oleh Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Aceh Besar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar resmi dimulai pada Jumat (5/12/2025) di Gedung PKK Kota Jantho. Agenda yang berlangsung selama dua hari, 5–6 Desember 2025, ini menjadi ruang silaturahmi, evaluasi, sekaligus penguatan peran seniman dalam pelestarian seni tradisi Aceh Besar.
Ketua Panitia Pelaksana, Muzakkir RA, atau yang akrab disapa Cik Boy, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan dialog diikuti oleh 50 peserta, terdiri dari para Ketua DKA Kecamatan, seniman, serta perwakilan sanggar seni di Aceh Besar. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat gerak kebudayaan hingga tingkat kecamatan.
Pada momen pembukaan, Ketua DKA Aceh Besar H. Mariadi, ST., MM, mengajak seluruh pengurus yang hadir untuk terlibat aktif dalam pengembangan dan pelestarian seni di wilayah masing-masing. Ia menegaskan bahwa keberadaan DKA Kecamatan sangat penting untuk memastikan seni tradisi terus tumbuh dan dekat dengan masyarakat.
Di sela kegiatan, Mariadi juga mengungkapkan rasa duka mendalam atas musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Ia menyampaikan bahwa DKA Aceh Besar bersama DKA Provinsi akan segera membentuk posko solidaritas dan membuka donasi untuk para korban, khusus untuk para seniman yang turut terdampak bencana. “Banyak seniman kita yang juga menjadi korban banjir. Kita harus hadir dan membantu mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DKA Provinsi Aceh, Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn, yang membuka kegiatan secara resmi, turut membacakan beberapa pepatah Aceh sebagai pengingat pentingnya kebersamaan dalam menghadapi bencana maupun menjaga seni tradisi. Ia menyinggung tantangan komunikasi akibat sinyal dan listrik yang terputus di beberapa wilayah pascabanjir, namun menekankan bahwa hal tersebut tidak mengurangi semangat DKA dalam memikirkan masa depan kesenian Aceh.
“Hari ini banyak seniman tradisi yang tetap eksis menjaga warisan budaya tanpa gaji dari pemerintah. Kita sedang dalam kondisi darurat berkesenian. Beberapa tradisi seperti dalae dan meudike di gampong-gampong terus bertahan meski hampir punah. Ini tugas kita bersama untuk menjaganya,” tegasnya.
Sebagai bagian dari rangkaian agenda, pada sesi jeda dialog juga ditampilkan sejumlah seni tradisi Aceh seperti Cae Aceh, Cagok Aceh, dan Hiem Aceh. Menariknya, sebagian besar penampilan tersebut mengangkat tema musibah banjir yang sedang melanda Aceh, sehingga menciptakan suasana haru dan mengundang empati peserta yang hadir. Beberapa tari tradisi turut dipentaskan secara sederhana, menambah kekayaan suasana dalam kegiatan tersebut.
Di penghujung acara hari pertama, DKA Aceh Besar secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepada 23 pengurus DKA Kecamatan. Penyerahan SK ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat struktur kelembagaan DKA di tingkat lokal, sekaligus menandai kesiapan para pengurus untuk lebih aktif bergerak dalam pemajuan seni budaya Aceh Besar.
Kegiatan Dialog Seniman dan Pentas Seni Tradisi Aceh Besar akan berlanjut hingga Sabtu (6/12/2025) dengan sesi diskusi lanjutan, evaluasi program kesenian daerah, serta penutupan yang juga dirangkai dengan penampilan seni tradisi dari sejumlah sanggar.[]
