Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Penjabat Pj) Wali Kota Banda Aceh,H.Bakri Siddiq, SE, MSi yang diwakili Asisten III Bidang Pemerintahan Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, Bachtiar, SSos, membuka acara Rapat Koordinasi Konvergensi Stunting Tingkat Kota Banda Aceh di Aula Mawardy Nurdin, Selasa (4/4/2023).
Dalam sambutannya, Bachtiar mengatakan, dalam kerangka pembangunan kualitas sumber daya manusia, permasalahan stunting yang merupakan salah satu bagian dari double burden malnutrition (DBM) mempunyai dampak yang sangat merugikan baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi produktivitas ekonomi dan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, stunting terkait dengan perkembangan sel otak yang akhirnya akan menyebabkan tingkat kecerdasan menjadi tidak optimal. Hal ini berarti bahwa kemampuan kognitif anak dalam jangka panjang akan lebih rendah dan akhirnya menurunkan produktifitas dan menghambat pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Menurutnya, Ada empat faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, pertama praktek pengasuhan yang dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan gizi sebelum dan pada masa kehamilan serta sesudah melahirkan, kedua, Pelayanan ANC–Antenatal Care dan Post-Natal Care yang kurang berkualitas.
“Sedangkan yang ketiga, akses ke makanan bergizi yang masih kurang, karena harga makanan bergizi yang relatif mahal dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang dapat mempengaruhi terjadinya infeksi berulang yang berdampak pada perkembangan anak, empat hal ini yang kemudian kita benahi secara bersama-sama,” jelas Bachtiar.
Bachtiar, mengatakan, rapat koordinasi di tingkat kota merupakan kegiatan operasional yang mengikutsertakan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Mitra Kerja lainnya dalam melaksakan kegiatan yang mendukung dan memastikan pelaksanaan koordinasi konvergensi Percepatan Penurunan Stunting (PPS) di wilayah kerja mulai dari tingkat kota, kecamatan dan gampong. Selanjutya secara periodik, melaporkan perkembangan pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting tersebut kepada Ketua Pelaksana TPPS Provinsi.
”Percepatan Penurunan Stunting dilakukan secara bersama – sama sesuai Perpres No. 72 Tahun 2021. Pencegahan Stunting dari Hulu dimulai dari Anak Remaja, Calon Pengantin, Ibu Hamil, Ibu Pasca Salin, dan Balita,” urai Bachtiar.
Ia mengharapkan, agar semua Dinas harus mengambil kontribusi dan saling mendukung semua program terkait Stunting dan akan dilaporkan dalam Aplikasi Bangda yang Laporan ini dipantau oleh pusat setiap bulannya dan menggambarkan bagaimana Kota Banda Aceh dalam pencegahan dan Penanganan stunting.
”Setelah Lebaran, kita akan melakukan Audit Kasus Stunting pada Calon Pengantin, Ibu Hamil, Ibu Pasca Salin, dan Balita dan di harapkan kita semua bisa ikut terlibat dalam Audit Kasus Stunting,” terangnya.
Fokus Pada Tujuh Program Penting
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Banda Aceh , Cut Azharida, SH, menambahkan, anggaran program dan kegiatan percepatan penurunan stunting 2023 di DP3AP2KB Banda Aceh mencapai Rp. 1,7 Miliyar yang akan difokuskan pada 7 program penting dalam menurunkan angka stunting.
“Ada sedikit kenaikan anggaran di DP3AP2KB, karena pada tahun ini kita memiliki program tambahan yaitu Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Kegiatan berupa pemberian edukasi gizi kepada kader DASHAT maupun kelompok sasaran (Ibu hamil, ibu menyusui dan ibu yang memiliki balita) tentang pentingnya makanan bergizi dalam upaya pencegahan stunting. Pada pelaksanaan edukasi gizi terdapat praktek memasak, yang hasil masakannya dapat dikonsumsi oleh keluarga risiko stunting, dan selanjutnya seluruh peserta edukasi diberikan tugas untuk melakukan pendampingan dan pembiasaaan,” pungkasnya. (AMZ)
