Riset: UMKM Lebih Pilih Utang Pinjol Dibanding ke Bank

Riset Katadata Insight Center menunjukkan kecenderungan pelaku UMKM lebih memilih pinjol dibandingkan ke bank karena pertimbangan kecepatan pencairan dana. Ilustrasi. FOTO/CNN

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Riset Katadata Insight Center mengungkap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lebih memilih utang ke pinjaman bold (pindar) alias pinjol  dibandingkan meminjam dana ke bank .

Senior Analyst Katadata Insight Center Hanif Gusman menjelaskan kecenderungan UMKM memilih pinjol karena pertimbangan kecepatan pencairan dana.

Namun, Hanif melihat industri pinjol saat ini masih mengandung persepsi negatif, sehingga menghambat optimalisasinya. Padahal sebenarnya pinjol memiliki manfaat, salah satunya bagi UMKM yang menangani masalah pendanaan dari perbankan.

“Salah satu yang kami lihat itu banyaknya stigma bahwa industri ini mengajarkan orang-orang untuk berinvestasi. Itu stigma negatifnya,” katanya dalam acara diskusi yang dihadiri Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2027).

Riset Katadata Insight Center menyasar 309 responden, yang merupakan pemilik atau manajemen UMKM penerima pembiayaan dari platform pinjol anggota AFPI. Hasil penelitian menunjukkan 64 persen responden tidak memanfaatkan pinjaman bank karena proses pengajuannya terlalu rumit.

Selanjutnya 41,6 persen responden menyatakan enggan mengajukan pinjaman ke bank karena persyaratan dokumennya sulit terpenuhi, sedangkan 32,9 persen lainnya terkendala tidak memiliki jaminan atau agunan.

Survei juga menunjukkan sebagian besar UMKM atau sekitar 69,3 persen responden memanfaatkan pinjol untuk modal usaha karena proses pencairan dana yang cepat. Lalu, 66,3 persen responden memilih pinjol, karena prosedurnya dinilai cepat dan sederhana, serta 60,8 persen lainnya karena aplikasi digitalnya mudah digunakan.

Selain terkait pendanaan, penelitian Katadata melaporkan kepada responden melihat pinjol sebagai jawaban bagi ekonomi. Sebanyak 64,7 persen responden menyatakan lebih siap menghadapi kondisi darurat setelah mengakses pembiayaan dari pinjol, kemudian 55,3 persen responden merasa lebih aman karena memiliki akses modal saat dibutuhkan.

Dari sisi pengelolaan usaha, 46,9 persen mengaku manajemen keuangan mereka menjadi lebih baik. Kemudian 46,6 persen menyebut tambahan modal membantu menambah stok barang dari pemasok atau distributor.

Dari kondisi ini, Hanif melihat pinjol berpeluang menjadi bagian dari penggerak perekonomian negeri. Pertama , pinjol bisa menjadi mitra strategi penyaluran dana pemerintah. Ia menarik langkah pemerintah memindahkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke Bank Himbara pada tahun lalu.

Menurutnya, pinjol berpeluang menjadi saluran distribusi melalui Innovation Credit Scoring (ICS), sehingga mampu menyaring calon debitur, tanpa memerlukan agunan atau persyaratan ketat seperti bank konvensional.

“Pindar menurut kami itu berpeluang sebagai saluran distribusi,” ucap Hanif.

Kedua , sebagai aplikasi digital, pinjol dinilai mampu melampaui batas geografis. Hasil penelitian Katadata mengungkap 18,9 persen penduduk masih kesulitan mengakses secara fisik ke lembaga keuangan. Lalu, masih terdapat kesenjangan inklusi keuangan antara perkotaan sebesar 83,6 persen dan pedesaan sebesar 75,7 persen.

Maka Hanif memandang modal bisnis pinjol yang berbasis digital tanpa kantor cabang fisik menjadi kunci krusial dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan penyaluran kredit.

Ia menyebut di Pulau Jawa, jumlah nasabah pinjol naik 37,6 persen menjadi 4,63 juta akun. Lalu, volume penyaluran pembiayaan juga naik 23,9 persen dari Rp6,81 triliun menjadi Rp8,44 triliun.

“Nah, dengan adanya pindar yang digital dan tanpa menggunakan fisik, ini menjadi kunci penting,” kata Hanif.(Muh/*)

Exit mobile version