Wisata  

Objek Wisata Tangsar Alur Biak, Surga Tersembunyi di Tenggulun

Objek wisata Tangsar Alur Biak di Gampong Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. FOTO/SCREENSHOT

Kuala Simpang – Kabupaten Aceh Tamiang memiliki sejumlah objek wisata yang masih tersembunyi di kawasan pedalaman dengan jalan menyempit dan sinyal ponsel sering hilang-timbul untuk sampai sebuah alur air yang sejak lama menjadi rahasia kecil warga.

Mereka menyebutnya Tangsar Alur Biak, sebuah bentang alam yang mengalir tenang, jernih, dan selalu menawarkan suhu yang lebih sejuk dari desa-desa di sekitarnya. Tidak seperti destinasi wisata yang sudah ramai dipromosikan,, nama Alur Biak tidak sering terdengar di telinga orang luar.

Bahkan sebagian warga Aceh sendiri mungkin belum pernah mendengarnya. Tapi bagi masyarakat Tenggulun, terutama bagi mereka yang tumbuh bersama hutan dan sungai, Tangsar Alur Biak adalah bagian dari hidup, tempat bermain ketika kecil, lokasi mencari ikan, tempat menenangkan pikiran, hingga ruang berkumpul ketika keluarga ingin menghabiskan waktu tanpa hiruk pikuk kota.

Perjalanan menuju Tangsar Alur Biak dimulai dari jalan kampung yang dikelilingi kebun rakyat dan saat semakin mendekat ke lokasi, hutan mulai mengambil alih pemandangan dengan pepohonan besar menaungi jalur tanah yang sesekali berbatu, membuat udara berubah lembap, namun tetap segar.

Tidak ada gerbang wisata dan tidak ada juga bangunan beton, kecuali suara gemericik air dari kejauhan. Pada musim hujan, air di alur ini biasanya meninggi, tapi tetap mempertahankan kejernihannya. Di musim kemarau, bebatuan besar terlihat jelas, menciptakan kolam-kolam dangkal alami yang aman untuk anak-anak bermain.

Hutan di sekelilingnya bukan sekadar dekorasi, tetapi sebagai adalah penjaga suasana dan cahaya matahari yang menembus sela dedaunan jatuh seperti kilau kaca di permukaan air. Aroma tanah basah, yang jarang ditemui di kota menguat setiap kali angin lewat.

Mereka yang pertama kali datang ke Tangsar Alur Biak sering tak percaya airnya sebening itu, jernih hingga kaki sendiri terlihat seperti melayang saat berada di dalamnya. Bebatuan yang memenuhi dasar sungai tidak disusun oleh manusia, namun tampak seperti karya seni alam yang sudah ada di sana jauh sebelum kampung berdiri.

Belakangan, Tangsar Alur Biak mulai disebut-sebut sebagai calon destinasi ekowisata baru di Aceh Tamiang. Pemuda-pemuda kampung mulai bergotong royong merapikan jalur, membuat rak sederhana untuk tempat tas, dan membersihkan sekitar alur agar tetap nyaman dikunjungi.

Mereka tidak ingin tempat ini berubah menjadi lokasi wisata massal yang penuh sampah dengan sebuah harapannya yang jelas, wisata berbasis alam, dijaga oleh warga, dan dinikmati tanpa merusak lingkungan. Seorang warga sempat berkata, “Tempat ini bukan mau kami jadikan wah, tapi cukup bersih dan tetap seperti aslinya. Alamnya sudah indah dari dulu.”

Pendekatan ini membuat Tangsar Alur Biak tetap terasa “liar” namun ramah bagi pengunjung. Sebuah keseimbangan yang jarang berhasil dipertahankan di banyak daerah. Bagi masyarakat Tenggulun, Tangsar Alur Biak bukan sekadar destinasi, tetpi menjadi identitas kultural, ruang alami yang ikut membesarkan generasi demi generasi.

Para wisatawan lokal masih di objek wisata Tangsar Alur Biak di Gampong Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. FOTO/SCREENSHOT

Sungai ini menjadi tempat belajar berenang, tempat belajar hidup komunal, tempat pertama kali mencicipi petualangan kecil saat menyusuri aliran air bersama teman-teman masa kecil. Ketika seseorang berpindah ke kota dan pulang kampung, salah satu hal pertama yang mereka rindukan adalah alur ini, kesederhanaannya, ketenangannya, dan kenangan masa kecil yang melekat kuat

Pada sore hari, saat matahari mulai redup dan suara serangga meningkat, suasana Tangsar Alur Biak berubah menjadi lebih syahdu. Air tampak lebih gelap, dan angin yang turun dari hutan membawa kesejukan tambahan.

Inilah momen ketika banyak pengunjung enggan pulang. Ada yang masih duduk memandangi permukaan air, ada yang berjalan pelan ke hulu, dan ada pula yang mengabadikan alur yang perlahan masuk dalam bayang senja.

Di tempat seperti ini, orang menyadari bahwa keindahan tidak harus megah, hadir dalam bentuk alur kecil yang mengalir tenang di tengah rimba. Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan perluasan kota, Tangsar Alur Biak mengajak orang untuk kembali pada hal yang sederhana, merasakan alam tanpa harus menguasainya.

Untuk mengingatkan ada tempat-tempat yang seharusnya dibiarkan tetap alami, dijaga dengan cinta, dan dinikmati tanpa berlebihan. Dan selama hutan tetap berdiri dan air terus mengalir, Tangsar Alur Biak akan tetap menjadi ruang sunyi yang siap menyambut siapa pun yang ingin sejenak keluar dari kebisingan.

Tangsar Alur Biak merupakan wisata pemandian, lokasinya terletak di kampong Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Taming. Untuk mencapai lokasi wisata ini harus menempuh jarak sekitar 40 km dari Kuala Simpang dan jika dari kota kecamatan bandar Pusaka kurang lebih sekitar 10 km.

Tempat wisata yang satu ini memiliki nama yang cukup unik dan merupakan tempat wisata pemandian yang terletak di Gampong Bengkelang, Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Tentunya pemandian yang satu ini menawarkan keindahan alam yang masih sangat asri serta pemandian yang masih alami.

Bagi yang ingin bermain air sambil menikmati keindahan alam maka Tangsar Alur Biak ini merupakan pilihan yang tepat.(Adv)

Exit mobile version