Kabarnanggroe.com, Meureudu – Lambatnya penanganan pascabanjir oleh pemerintah membuat warga Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, harus berinisiatif sendiri membersihkan rumah mereka. Bahkan, sebagian warga terpaksa mengupah pekerja harian untuk mengangkat lumpur yang masih menumpuk di dalam rumah.
Salah satu warga, Hamzah Abu, mengaku telah memperkerjakan dua orang warga setempat untuk membersihkan lumpur dengan upah Rp150 ribu per hari per orang. Pekerjaan tersebut telah berlangsung selama 30 hari, sejak bulan Ramadan 1447 Hijriah.
“Lumpur di dalam rumah mencapai sekitar dua setengah meter dan harus dibuang secara manual,” ujar Hamzah, didampingi Maimunah saat ditemui wartawan, Kamis (2/4/2026).
Menurut Hamzah, meskipun pemerintah telah memberikan bantuan tunai sebesar Rp8 juta, hal tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi dampak bencana yang telah berlangsung selama empat bulan. Hingga kini, lumpur masih menggenangi bagian dalam rumahnya.
“Kalau hanya berharap kepada pemerintah tidak cukup. Sudah empat bulan kami lalui, tapi lumpur masih ada di dalam rumah,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan dari PMI Aceh yang telah membantu membersihkan lumpur di halaman rumahnya.
Sementara itu, dua pekerja yang diupah, Murdani dan Bustani, mengatakan mereka menerima upah Rp150 ribu per hari per orang. Keduanya telah bekerja selama sekitar satu bulan, tidak hanya di rumah Hamzah, tetapi juga di sejumlah rumah warga lainnya yang terdampak banjir.
“Kami kerja berdua, sudah sekitar 30 hari. Selain di sini, kami juga membantu warga lain membersihkan sisa lumpur banjir,” ujar mereka.
Warga berharap adanya perhatian dan penanganan lebih cepat dari pemerintah agar proses pemulihan pascabencana dapat segera terselesaikan.(Hadi)
