Menyucikan Jiwa Melalui Bacaan Al-Qur’an

Oleh: Putri Mizanna, S. HI (Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen)

Kabarnanggroe.com, Al-Quran adalah sumber hikmah dan petunjuk bagi umat manusia. Dalam membaca Al-Quran, kita dapat memperoleh pengetahuan tentang ajaran Islam, etika, dan nilai-nilai moral yang akan membantu kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan membiasakan membaca Al-Quran, kita dapat memahami tujuan hidup kita dan bagaimana mencapainya dengan cara yang benar.

Bacaan Al-Qur’an umumnya memiliki efek yang sangat baik untuk tubuh, seperti memberikan menenangkan jiwa, meningkatkan kreativitas, dan menumbuhkan kekebalan tubuh. Efek lainnya, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menyembuhkan berbagai penyakit, menciptakan suasana damai, meredakan ketegangan saraf otak, meredakan kegelisahan, mengatasi rasa takut, memperkuat kepribadian, serta meningkatkan kemampuan berbahasa.

Zakiyah Daradjat, dalam bukunya Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental menulis, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu metode dalam mengatasi masalah hati, menyucikan jiwa dan meningkatkan kesehatan mental. Membaca Al-Qur’an senantiasa menjadikan hati kita lebih tenang dan damai, karena dengan membaca Al-Qur’an secara tidak langsung kita sedang menghadap Allah Swt.

Selain itu, membaca Al-Qur’an merupakan media tazkiyatun nafs atas segala penyakit-penyakit hati. Yang dimaksud sarana tazkiyah menurut Said Hawa dalam bukunya Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu, adalah berbagai amal perbuatan yang mempengaruhi jiwa secara langsung dengan menyembuhkannya dari penyakit, membebaskannya dari “tawanan“ atau merealisasikan akhlak padanya.

Tak ada yang sia-sia yang terjadi di dunia ini dan tidak ada yang sia-sia dihadapan Allah ta’ala. Jika segala sesuatu dihadapan Allah tidak ada yang sia-sia, terlebih lagi membaca Al-Qur’an (sekalipun kita tak faham apa yang kita baca).

Jangankan membaca tanpa memahaminya. Orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata saja mendapatkan dua ganjaran, sebagaimana hadis dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya, maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (HR Bukhari Muslim).

Adapun dua ganjaran tersebut adalah ganjaran untuk bacaan dan kedua ganjaran atas untuk kepayahan dan kesulitanmya. Lafadz hadits tersebut telah menegaskan pentingnya membaca Al-Qur’an dan bukanlah menjadi perbuatan yang sia-sia.

Sebuah pesan moral dari kisah seorang kakek dan cucunya akan jaminan bahwa apa pun yang dilakukan seorang hamba, terlebih lagi membaca al-Qur’an mesti tidak faham setiap maknanya, namun tetap akan dirasakan manfaatnya.

Dikisahkan pada suatu tempat, hiduplah seorang kakek bersama cucunya. Setiap hari kakeknya rajin membaca dan mempelajari al-Quran. Kebiasaan si kakek yang diperhatikan oleh cucunya, menjadikan cucunya berkeinginan untuk belajar al-Qur’an. Namun si cucu mengeluh kepada sang kakek setelah beberapa saat belajar dan merasa diri tidak mampu dan tidak seperti sang kakek yang mahir.

Dan pada akhirnya dia berkata pada sang kakek: “Kakek, apa gunanya kita membaca Al qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al qur’an yg kubaca”.

Mendengar hal itu bukannya menjawab, sang kakek malah memberikan tugas kepada si cucu untuk mengambil keranjang kotor di dapur dan memerintah si cucu mengambil air dengan keranjang tersebut.

Tanpa membantah, si cucu melaksanakan titah sang kakek mengambil air kesungai untuk memenuhi ember dengan sebuah keranjang tersebut walaupun hasilnya tidak ada sedikitpun air yang berhasil dibawa ke dalam rumah karena keranjang bolong tentu tidak bisa menampung air. Berpuluh kali sang cucu mencoba membawa air dengan keranjang namun nihil hasilnya.

Hingga pada akhirnya dia menyerah karena merasa lelah dan telah melakukan perbuatan yang sia-sia. “Lihatlah kakek sungguh apa yang kulakukan sia-sia karena tidak ada air yang bisa aku bawa,” ucapnya.

Si Kakek bertanya: “Benarkah? Coba perhatikan keranjang nya, bukankah waktu kamu ambil tadi keranjangnya kotor dan hitam? Lihatlah sekarang keranjangnya telah bersih”. Dengan tertegun sang cucu memperhatikan keranjang di tangannya yang benar-benar bersih. “Begitulah manfaat membaca al-Quran, walaupun kamu belum paham arti dan maknanya namun al-Quran itu sudah membersihkan jiwamu”.

Dari Abdullah bin Umar r.a, berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air.” Beliau ditanya “Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?” Rasulullah saw bersabda, “Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al Qur’an.” (HR. Baihaqi).

Karena itu, kita patut merencanakan jadwal membaca Al-Quran dengan baik, sehingga dapat membacanya secara terjadwal, rutin, dan berkelanjutan. Bukan hanya menyediakan waktu tersisa bersama Al-Quran. Dari itu, kita akan merasakan berkah dan jiwa yang bersih sebagai dampak interaksi dengan wahyu Ilahi.

Editor: Sayed M. Husen

Exit mobile version