Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh Dr Musriadi SPd MPd mendesak Penjabat (Pj) Wali Kota Bakri Siddiq segera mencari solusi pencegahan kasus HIV/AIDS di Banda Aceh. Kami prihatin akan bertambahnya kasus kasus baru
Kasus HIV / AIDS pertama kali ditemukan di Kota Banda Aceh pada tahun 2008 dengan diangnosa AIDS sebanyak 2 kasus dan telah meninggal dunia. Sampai dengan bulan Februari tahun 2023 kasus baru yang ditemukan di Kota Banda Sebanyak 198 kasus terdiri dari 161 kasus HIV dan 37 kasus Aids. Untuk Tahun 2022 Kota Banda Aceh menempati urutan pertama kabupaten/kota dengan kasus HIV/AIDS yang tertinggi.
“Kita mendesak Pj Walikota melalui dinas kesehatan untuk meningkatkan skrining, deteksi dini menjadi cara efektif selama ini untuk mencegah penularan kasus HIV/AIDS agar tidak bertambah setiap tahunnya,” tegas Musriadi, dalam rapat paripurna DPRK Banda Aceh dalam rangka penyerahan dan penjelasan LKPJ Walikota tahun 2022, di Gedung DPRK Banda Aceh, Jumat (31/3/2023).
Untuk itu, Ia berharap Kasus (HIV/AIDS) jangan dianggap enteng, justru jadi bumerang nanti. Penyakit ini harus dicari solusinya. Pasalnya, dari informasi yang di terima jumlah temuan kasus HIV/AIDS semakin tahun semakin tinggi. Pemkot Banda Aceh harus merumuskan strategi untuk penanganan HIV/AIDS melibatkan LSM yang peduli dengan HIV/AIDS
“Kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, dimana data yg terlaporkan masih sangat sedikit dari kasus yang mungkin saja sudah ada tapi masih banyak yang belum mau melakukan tes sehingga tidak terlaporkan karena masih tingginya stigma pada masyarakat,” ujarnya.
Politisi PAN ini, menegaskan bahwa seiring dengan meningkatnya penjaringan skrining tes HIV setiap tahunnya, penemuan kasus HIV di Kota Banda Aceh juga semakin meningkat Program yang diberikan adalah memberikan edukasi ke masyarakat terkait dengan penyakit HIV/AIDS, cara penularan, sampai cara pencegahan
Kita berharap, dengan adanya sosialisasi serta pendampingan, bisa mengetahui secara dini penderita, sehingga bisa dilakukan pengobatan lebih lanjut, diharapkan juga ada anggaran khusus untuk penanggulangan penyakit itu.
“Untuk mencegah hal ini terjadi dan meningkatnya kasus HIV/AIDS perlu kepedulian bersama dalam meningkatkan pemahaman terkait dengan penyimpangan perilaku seksual di masyarakat,” demikian Musriadi. (Adv)
