UPTD Pelabuhan Ulee Lheu Catat Penurunan Wisatawan Nataru Hingga 40 Persen

Suasana tanpak sepi di Pelabuhan Ulee Lheu, Kota Banda Aceh, Rabu (31/12/2025). FOTO/ WAHYU

Banda Aceh — UPTD Penyeberangan Wilayah I Pelabuhan Ulee Lheu mencatat terjadi penurunan signifikan jumlah wisatawan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, jumlah penumpang tercatat menurun hingga sekitar 40 persen.

Kepala UPTD Penyeberangan Wilayah I Pelabuhan Ulee Lheu, Husaini SE MM Tr mengatakan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama dampak bencana banjir bandang yang melanda Aceh pada 26 November 2025 di 18 kabupaten/kota.

“Nataru tahun 2026 ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Bencana banjir bandang yang terjadi pada 26 November lalu sangat memengaruhi mobilitas masyarakat, khususnya wisatawan dari luar Aceh,” ujar Husaini, di Pelabuhan Ulee Lheu, Kota Banda Aceh, Rabu (31/12/2025).

Kepala UPTD Penyeberangan Wilayah I Pelabuhan Ulee Lheu, Husaini SE MM Tr.

Ia menjelaskan, meskipun pihaknya telah melakukan rapat koordinasi kesiapan personel menjelang Nataru bersama berbagai pihak terkait seperti ASDP, Express Bahari, BMKG, BPTD, dan KP3, potensi lonjakan penumpang tetap tidak sebesar tahun 2024.

Berdasarkan data UPTD sejak 18 hingga 30 Desember 2025, tren pergerakan penumpang memang sempat mengalami kenaikan harian. Namun secara keseluruhan, jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Jika dibandingkan dengan Nataru 2025, terjadi penurunan rata-rata sekitar 40 persen. Ini terutama disebabkan oleh terganggunya akses jalur darat, meskipun beberapa jembatan di wilayah kota sudah diperbaiki, namun belum sepenuhnya optimal,” jelasnya.

Grafik perbandingan jumlah kendaraan. DOK/ UPTD Penyeberangan Wilayah I Pelabuhan Ulee Lheu.

Husaini menyebutkan, wisatawan dari Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Barat yang biasanya memanfaatkan jalur darat menuju Banda Aceh dan Sabang, jumlahnya berkurang drastis. Penumpang yang terlihat selama Nataru 2026 didominasi masyarakat lokal Banda Aceh dan beberapa daerah terdekat seperti Pidie dan Bireuen.

“Sekitar 60 persen penumpang merupakan keluarga lokal yang memilih berlibur ke Sabang. Kemungkinan karena keterbatasan akses darat, sehingga destinasi luar Aceh menjadi kurang diminati,” katanya.

Dari sisi pelayanan, UPTD Pelabuhan Ulee Lheu terus melakukan pembenahan melalui digitalisasi. Saat ini, hampir 80 persen layanan telah berbasis digital, mulai dari pemesanan tiket kapal cepat dan kapal feri secara daring, penggunaan e-money, hingga sistem barcode untuk akses masuk pelabuhan.

“Dengan digitalisasi ini, tidak lagi terjadi antrean panjang. Penumpang hanya diizinkan masuk ke kawasan pelabuhan dua jam sebelum keberangkatan dan wajib memiliki tiket resmi,” terang Husaini.

Selain itu, pelabuhan juga akan menerapkan sistem kawasan steril, di mana hanya penumpang bertiket yang dapat masuk. Kebijakan ini telah berjalan hampir empat tahun untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jasa.

Di sisi lain, Husaini mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, khususnya dari sisi laut. Di antaranya usia movable bridge (MB) yang telah mencapai 20 tahun serta kolam pelabuhan yang semakin terbatas akibat penambahan armada kapal.

Meski demikian, Pelabuhan Ulee Lheu tetap memainkan peran strategis, terutama saat masa tanggap darurat bencana. Selama penanganan banjir bandang, pelabuhan ini menjadi pusat distribusi bantuan kemanusiaan ke wilayah pantai utara dan timur Aceh.

Grafik perbandingan jumlah kendaraan. DOK/ UPTD Penyeberangan Wilayah I Pelabuhan Ulee Lheu.

“Kami telah menyalurkan lebih dari 550 ton logistik, mengevakuasi lebih dari 1.000 orang, serta mengangkut lebih dari 100 kendaraan roda dua melalui KMP Malahayati. Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.

Ke depan, UPTD Pelabuhan Ulee Lheu juga berencana mengintegrasikan sistem digitalisasi dengan aplikasi jembatan timbang untuk menjaga keselamatan dermaga dan infrastruktur pelabuhan.

“Pelabuhan Ulee Lheu akan terus kami dorong menjadi pelabuhan penyeberangan yang aman, tertib, dan modern, sekaligus menjadi garda terdepan dalam pelayanan dan misi kemanusiaan di Aceh,” imbuh Husaini.

Sementara itu, seorang penumpang di Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheu, Aiyub Bukhari, mengakui bahwa jumlah pengunjung pada masa libur Natal dan Tahun Baru tahun ini terlihat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau saya lihat, memang penumpang tahun ini memang sangat sepi. Tidak seperti Nataru tahun lalu, yang bahkan kali ini antrean juga tidak terjadi,” ujar Aiyub.

Ia menilai, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih terganggunya akses transportasi darat pascabanjir bandang serta kondisi yang belum sepenuhnya stabil. Meski demikian, Aiyub mengapresiasi pelayanan pelabuhan yang kini semakin tertib dan teratur.

“Sekarang lebih rapi karena semuanya sudah pakai tiket online. Datang sesuai jadwal, jadi tidak berdesakan dan lebih nyaman,” pungkasnya.(Wahyu)